Rantai Kematian

Lama, lama sudah aku tidak membuka kitab yang teramat suci ini, apalagi membacanya-sudah berdebu.

Rantai Kematian
ILUSTRASI: BPOST GROUP/DENI

Oleh: Syamsul Arifin

KULLUNAFSIN zaikatul maut...

Lama, lama sudah aku tidak membuka kitab yang teramat suci ini, apalagi membacanya-sudah berdebu. Mulai kubuka lembar demi lembar kertasnya yang kusam dan bergelombang ini.

Saat berjumpa pada kalimat -kullu…-dalam kitab ini surat Al-Baqarah ayat : .Bendungan air mataku yang tadinya sudah retak jebol seketika. Bak awan yang tadinya muram pun runtuh. Membasahi huruf-huruf surga yang terangkai indah dalam kertas kusam ini.

“Setiap yang bernyawa pasti mati.”

Tak berapa lama para tetangga mulai berdatangan kerumahku, ini berkat ketua RT yang telah mengumumkan lewat corong musala tentang kepergian ibuku. Mereka membawa kitab berbentuk segi empat dengan warna dan ukurannya yang berbeda.

Ajaibnya, isinya semua sama. Tak ada yang dapat merubahnya sehuruppun atau hanya sekadar mengalihkan harokat. Karena dijaga langsung oleh-Nya. Kitab itu merupakan mukjizat terbesar di dunia yang diamanahkan kepada Manusia paling sempurna. Kitab itu diturunkan dari lauhul mahfuzh sampai kepada Manusia paling sempurna dengan dua proses ; pertama, di turunkan oleh-Nya ke langit bumi tepatnya di Baitul ‘Atiq. Kedua, di turunkan kebumi tepatnya kepada Manusia paling sempurna-dengan cara berangsur-angsur oleh tentaranya: Jibril, sesuai dengan Perintah-Nya. Itu adalah secuil ilmu yang kuperoleh di pesantren dulu.

Saat orang-orang seperti tawon, aku tenggelam dalam lantunan ayat-ayat suci yang tengah kubaca. Indah sekali.

***

Sunyi senyap sekali mala mini, tidak seperti biasanya. Malam ini hanya meninggalkan gulita tanpa ada secercahpun cahaya. Ibu…aku kangen, Bu. Kenapa secapat ini kau kembali? Padahal aku belum membahagiakanmu. Malah, yang ada aku telah membuat sakit hatimu. Aku telah durhaka padamu, tidak memerhatikan wejanganmu, tidak melaksanakan perintahmu. Oh…ibu…ibu… maafkan daku.

Aku teringat kejadian beberapa tahun lalu. Mungkin ini adalah dosa yang paling besar yang pernah kulakukan terhadap ibu; saat aku marah-marah padanya tuk minta uang guna membeli minuman haram.

Halaman
1234
Tags
Cerpen
Editor: Dheny
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved