Terapkan One Day One Juz

Sempat mati suri selama bertahun-tahun, Kelompok Studi Islam Madrasah Aliyah Negeri

Terapkan One Day One Juz
UMMAH/IST
SUASANA peresmian KSI Shofwatul Martaja MAN 2 Kandangan, beberapa waktu lalu. 

Sempat mati suri selama bertahun-tahun, Kelompok Studi Islam (KSI) Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Kandangan, kini eksis lagi. Bahkan gema syiar Islam yang dilaksanakan makin membumi.

Semangat pelajar setempat memang luar biasa. Kevakuman KSI yang pernah dialami, tak lantas menyebabkan mereka kecil hati. Justeru, itu menjadi pelecut untuk makin gigih menggemakan ajaran Islam.

Sepuluh pelajar MAN 2 Kandangan terus berusaha dan berkarya. Mereka mencoba bangkit dan mendirikan KSI yang diberi nama Shofwatul Martaja.

Tepat tanggal 19 Januari 2013, hari bersejarah itu diukir. Para siswa/siswi yang berminat belajar dan berdiskusi tentang Islam pun dinaungi di KSI Shofwatul Martaja.

Banyak kegiatan yang dilakukan KSI Shofwatul Martaja. Tentunya antara akhwat dan ikwan berbeda. “Kami mempunyai agenda masing-masing. Tapi kalau acara besar kami bergabung tapi tetap sesuai syariat Islam,” ujar Edri Adi Setiawan, ketua Ikhwan KSI Shofwatul Martaja.

Edri menjelaskan kegiatan pengajian untuk ikhwan dilaksanakan tiap Minggu. Sekarang, mereka sedang gencar-gencarnya melaksanakan One Day One Juz (satu hari satu jus). Ini merupakan program yang dipelopori oleh ustadz Yusuf Mansyur.

Kegiatan ekstra religius itu mereka laksanakan sejak Juni 2013. Tapi lantaran ada kendala, sehingga program ini tidak berhasil. Lalu, kembali digalakkan tahun ini.

“One day one juz harus bisa dilaksanakan. Kami mewajibkan anggota untuk mengaji di rumah masing-masing, supaya target berhasil,” beber Edri.

Beda lagi dengan cerita Akhwatnya, yang lebih memilih menghirup udara luar ketimbang di sekolah. Mereka berkumpul tiap hari Jumat untuk melaksanakan liqo (diskusi-red).

Tempatnya pun tidak menentu, tergantung kesepakatan. Tidak melulu monoton dengan diskusi, tapi melakukan kegiatan seru lainnya.

Aida Musrifah, ketua Akhwat KSI Shofwatul Martaja, mengatakan salah satu contohnya kegiatan seru tersebut adalah memasak bersama. “Masaknya bisa di rumah saya atau rumah anggota yang lain” ujarnya.

Memasaknya pun tidak makanan yang ‘berat’, hanya makanan ‘ringan’ untuk camilan ketika berdiskusi. Dengan memasak dan makan bersama bisa mengakrabkan antaranggota.

Tapi tidak melulu memasak, liqonya juga dibuat seru. Mereka membahas hal-hal yang lagi trend di tengah kehidupan masyarakat di negeri ini.

Antara lain membahas gaya hidup atau lifestyle anak muda sekarang ini. Apakah kecenderungan gaya hidup itu sesuai dengan Alquran dan hadid ataukah tidak.

“Mengikuti gaya hidup kekinian boleh saja, tapi tetap harus mempedomani tuntutan Alquran dan hadis. Tegasnya, boleh tampil gaya, namun tetap agamis,” ucap Aida. (pramita kusumaningrum/idda royani).

Editor: Dheny
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved