Pembacaan Kitab Langsung Diterjemahkan

SETIAP Jumat awal bulan, di Musala Raudhatul Anwar di Desa Kampung Melayu Ilir, Martapura Timur,

Pembacaan Kitab Langsung Diterjemahkan
BPost Group/Nurholis Huda

SETIAP Jumat awal bulan, di Musala Raudhatul Anwar di Desa Kampung Melayu Ilir, Martapura Timur, Kabupaten Banjar, pasti dipadati jemaah hingga ribuan orang. Mereka berpakaian muslim didominasi warna putih.

Jemaah menyebut kegiatan ini sebagai pengajian bulanan. Biasanya diisi dengan pembacaan Ratib Adat, Manakib Siti Hadijah, ditutup dengan ceramah agama.

Pengajian bulanan ini dilaksanakan tidak hanya siang, namun sampai malam. Meski demikian, jemaah seakan tidak merasa lelah. Mereka justru semakin khusyuk dalam berbagai ritual yang dilaksanakan.

Joko, salah seorang jemaah, mengungkapkan senangnya mengikuti acara pengajian itu. Ia bahkan tidak pernah absen berhadir setiap bulan. “Banyak tuntunan hidup yang didapat. Saya juga suka dengan pengajian yang ada, membuat diri rasanya makin istiqamah,” Joko, yang bermukim sekitar musala.

Menurut Joko, pengajian ini juga makin mengakrabkan sesama warga sekitar yang berasal dari berbagai etnis, yang sebagian besar dari Banjar dan Jawa.

Selain pengajian bulanan, di musala ini dilaksanakan pengajian rutin usai salah Ashar dan salat Magrib. “Selain jumat awal juga ada pengajian setiap hari. Menjelang magrib. Kecuali hari Jumat dan Hari Minggu sore,” kata Joko.

Untuk pengajian Jumat awal bulan, biasanya menghadirkan ulama-ulama terkenal di Martapura.

Tidak dua kegiatan itu. Di musala ini pada malam Selasa dilaksanakan pembacaan Manakib dan selawat Syekh Abdul Qadir Jaelani.

Kemudian, ada lagi Rabu pagi, diadakan pengajian khusus kaum perempuan. Sedangkan setiap Kamis malam (malam Jumat) diadakan pembacaan Burdah, Maulid Habsyi/Maulid Diba, dan pembacaaan maulid lainnya.

Yang sering ikut, bukan hanya warga Martapura Timur, namun ada juga warga dari kampung lainnya. Salah satunya adalah  Aidil Basith, yang berasal dari Indrasari.

Basith mengaku juga senang mengikuti pengajian di musala karena banyak mengupas tentang kitab-kitab. “Biasanya mengkaji kitab, Ihyaul Muhdin, fiqih Islam, tasawuf, menakib, biografi aulia Allah,” papar Basith, Rabu (5/1).

Bukan sekadar ceramah, sambungnya, tapi ini membacakan kitab dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia atau Banjar.

“Setiap pengajiannya, saya senang hadir. Sudah puluhan tahun. Banyak pelajaran dari kitab dan dari petuahnya yang dijadikan landasan dalam hidup. Itu saya senang sekali,” ujar Basith.

(nurholis huda-ernadjedi)

Editor: Dheny
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved