Rumah

Sudah lama ia juga memimpikan ingin memiliki rumah sendiri. Hasil dari jerih payah dan keringatnya.

Rumah
BPOST GROUP/DENI

Oleh: Muhammad Saleh

SEBENARNYA ia merasa iri ketika melihat orang lain dapat membangun rumah, walau bibirnya, tersenyum ketika membantu bersama warga lain memasang kuda-kuda sebagai kerangka rumah, atau memberikan ucapan selamat sambil menjabat tangan.

Sudah lama ia juga memimpikan ingin memiliki rumah sendiri. Hasil dari jerih payah dan keringatnya. Tetapi, hajat itu sepertinya belum akan cepat terkabul. Penghasilannya pas-pasan dan terkadang kurang. Biaya hidup sehari-hari saja bersama istri dan anaknya terkadang harus ditambal dengan ngutang sana-sini.

“Kapan kamu mau bikin rumah juga? Masa numpang sama mertua terus,” begitulah tanya para tetangga ketika mereka bersua saat mandi di lanting bambu di bantaran sungai. Pertanyaan ringan tetapi sungguh menggores hati dan meninggalkan luka bagi Usman.

“Nunggalin uang dulu,” itulah jawaban yang sering ia lontarkan. Setelah itu ia cepat menyelesaikan mandinya dan pergi dari lanting. Gerah rasanya walau sehabis mandi jika selalu ditanya soal rumah itu pada Usman.

Baginya soal rumah adalah hal sensitif.

***

Usman, begitulah ia dipanggil oleh warga. Lelaki yang pekerjaannya setiap hari hanya berjualan sayur-mayur itu sedang duduk termenung di bawah pohon bambu di pinggir sungai. Hari ini ia libur berjualan karena masalah rumah yang akhir-akhir ini sering membuatnya stress dan tertekan. Ia memikirkan nasibnya yang tak kunjung berubah walau menurutnya sudah bekerja keras.

Ia menyesali nasibnya kenapa tak seperti teman-temannya yang lain, padahal mereka sama-sama lulusan SMA. Bardi diterima bekerja di kantor kelurahan, Usuf menjadi pedagang kain yang sukses, Dian menjadi sopir pribadi seorang pejabat.

Ah, andai dia bisa protes pada Tuhan mungkin ia akan berteriak kenapa ia tak diberikan pekerjaan seperti teman-temannya? Padahal dari ketiga temannya, ketika sekolah dulu Usmanlah yang paling pandai. Namun, ternyata nasibnya yang paling buruk. Jika saja ia mempunyai pekerjaan yang layak, mungkin ia sudah dapat membuat rumah.

Halaman
1234
Tags
Cerpen
Editor: Dheny
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved