Cinta Pemuda Haram

Terserah kau mau percaya atau tidak, yang pasti kau harus pergi dari sini. Kami tidak ingin kampung kami kena sial

Cinta Pemuda Haram
ILUSTRASI: BPOST GROUP/DENI

Oleh: Norhayati F

ANAK haram? Aku anak haram dari seorang pelacur? Tidak mungkin! Kalian pasti bohong. Tidak mungkin ibuku seorang pelacur dan meninggal dunia karena kanker rahim. Tidak!” Bantah pemuda tinggi berkulit gelap dan matanya sipit itu, pada orang-orang di depannya. Hatinya serasa dicabik-cabik.

Terserah kau mau percaya atau tidak, yang pasti kau harus pergi dari sini. Kami tidak ingin kampung kami kena sial gara-gara didatangi anak haram.” Usir mereka kasar.

“Dengar! Kau tidak hanya tak pantas berada di sini lama-lama. Kau juga tidak pantas hidup di bumi ini. Lebih baik cepat kau susul ibumu ke neraka sana.” Timpal yang lain.

“Inikah kenyataan yang harus ku terima setelah memutuskan mencari ibu kandung yang telah membuangku? Seharusnya aku tidak bersikeras mencarinya sampai ke sini. Seharusnya aku tetap tinggal bersama orangtua angkatku. Aku bahkan meninggalkan pekerjaanku.” Sesalnya dalam hati.

Pemuda bernama Hanif ini melangkah gontai meninggalkan kampung itu. Perutnya berteriak minta diisi. “Ya Allah. Kenapa aku harus menanggung dosa seorang ibu yang tak pernah ku lihat wajahnya, kecuali saat aku berupa bayi merah yang baru dilahirkan? Kenapa aku harus menanggung dosa seorang ibu yang sama sekali tidak pernah merawatku?” Gumamnya dalam hati.

“Untuk apa kau ciptakan aku sebagai manusia haram? Kenapa tidak sekalian saja kau ambil nyawaku sebelum aku terlahir ke dunia ini? Kenapa kau lahirkan aku dari rahim seorang pelacur dan sebagai anak haram? Kenapa bukan seorang wanita baik-baik yang menjalani ikatan suci pernikahan? Kenapa Ya Allah” Gumamnya lagi.

Pemuda ini terus berjalan sambil memegangi perutnya yang kelaparan sambil membawa Ransel di punggungnya. Uangnya sudah habis di perjalanan ke Batu licin ini. “Seandainya aku tetap tinggal di Banjarbaru” Sesal batinnya.

“Mungkin benar yang mereka katakan, lebih baik aku mati saja.” Ucap pemuda ini dalam hati saaat berdiri mematung di depan sebuah jembatan.

Dia berniat menjatuhkan tubuhnya ke dasar sungai. Kini, pemuda itu sudah berada di tepi jembatan. Dia mulai mendaki pagar jemabatan itu.

Halaman
1234
Tags
Cerpen
Editor: Dheny
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved