Man Jadda Wajada

Setelah lulus dari MTsN Jaro, Rizam melanjutkan sekolahnya ke pondok pesantren Al Mazaya di Kota Amuntai.

Man Jadda Wajada
BPOST/Denny
Ilustrasi

Oleh: Ar Rasyid El Jaroiey

SETELAH lulus dari MTsN Jaro, Rizam melanjutkan sekolahnya ke pondok pesantren Al Mazaya di Kota Amuntai. Di pondok tersebut terdapat pendidikan formal dan nonformal. Di sana semua santrinya ditekankan untuk lancar membaca kitab kuning, sementara kemampuan berbicara bahasa Arab dan Inggris tidak begitu ditekankan.

Sementara itu Aisyah, teman Rizam waktu di MTs juga melanjutkan sekolahnya ke sebuah pesantren di Kota Banjarmasin, tetapi di pesantren tersebut sistem pembelajarannya secara modern. Semua santri dan santriwatinya ditekankan untuk lancar berbicara dengan menggunakan Bahasa Arab dan Inggris.

***

Saat ada liburan, Rizam pulang kampung. Sesampainya di depan gang di kampungnya, Rizam turun dari taksi yang ia tumpangi. Ia tersenyum dan menarik napas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya secara perlahan. Rasa gembira menyergapnya bagaikan seorang musafir yang mendapatkan segeles air es di tanah tandus yang panas.

Rumah Rizam masih jauh, sedangkan mobil yang tadinya ia tumpangi tidak bisa masuk. Di sana tidak ia jumpai ojek yang biasa mangkal di muka gang. Terpaksa ia harus jalan kaki. Langkah demi langkah ia jalani tak terasa hampir separu jarak yang ia tempuh.

Tiba-tiba ia melihat  Aisyah sedang mengendarai sepeda motor maticnya lewat dari arah yang berlawanan dengan Rizam.

“Hai...Rizam, kamu baru datang, kok kamu jalan kaki?” sapa Aisyah.

“Ya...soalnya ojeknya nggak ada, terpaksa deh aku jalan kaki,” jawab Rizam.

“Rumahmu kan masih jauh dari sini? Jika aku laki-laki pastilah sudah akan aku antar kamu ke rumah.”

Halaman
1234
Tags
Cerpen
Editor: Dheny
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved