Menyemai Hidup

KULIHAT sudah seminggu ini dia mangkal di depan gerbang SD Pelita Harapan. Beberapa kali aku membeli dagangannya.

Menyemai Hidup
BPOST GROUP/DENI
Ilustrasi

Oleh: Muhammad Ery Zulfian

KULIHAT sudah seminggu ini dia mangkal di depan gerbang SD Pelita Harapan. Beberapa kali aku membeli dagangannya. Kadang aku membeli resoles, donat, kue untuk, dan kue cincin.

Sambil menghabiskan kue yang kubeli, aku mengajaknya untuk ngobrol sejenak. Ya, sambil menunggu anakku keluar dari peraduannya meniti ilmu. Sambil nyantap, ya bagusnya sambil ngobrol. Kali aja dapat ilmu dari beliau seorang pedagang kue keliling.

Namanya Sri Rahmawati. Aku memanggilnya Bi Sri. Umurnya kurang lebih 50 tahun. Aku mengira-ngira saja dari guratan kulitnya di tangan.

Saat mengobrol, beliau mengaku tak pernah sekolah. Belajar saja sedikit-sedikit. Itupun hanya membaca, menghitung tidak. Namun apa yang membuat aku kagum dari sosok beliau?

Beliau ternyata punya dua anak yang sukses dan sudah bertitel S2. Suaminya meninggal saat anaknya masih menginjak bangku SD.

Perjuangan yang mungkin sangat hebat dari Bi Sri. Sewaktu kutanya beliau tentang cara menghidupi kedua anaknya selama sekolah, beliau hanya tersenyum.

Dilihat dagangan kuenya sejenak, kemudian bibirnya terbuka lebar. Aku pun tak kuasa menahan malu.

Jujur, aku langsung membalikkan badan lalu menyeka beberapa butiran air yang keluar dari bola mata. Entah kenapa itu bisa terjadi.

“Benar Bi. Bibi mencukupi anak Bibi dengan berjualan kue ini saja?” tanyaku perlahan yang masih belum percaya.

Halaman
123
Tags
Cerpen
Editor: Dheny
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved