Ajarkan Kitab Penawar Hati

Pengajian Ustadz H Muhammad Yunus, memang tak punya nama. Bahkan, bangunan khusus sebagaimana

Ajarkan Kitab Penawar Hati
BPost Group/Hanani
IBU-IBU mengikuti majelis taklim yang dipimpin Guru Yunus. 

SEBUAH rumah di Jalan Surapati No 12 RT 06 Gang Manggis 2, Barabai, setiap Senin dan Sabtu sore, selalu dipadati orang yang datang dari berbagai arah di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST). Halaman cukup luas di rumah itu menjadi tempat berkumpul warga yang mengikuti pengajian Ustadz H Muhammad Yunus.

Pengajian Ustadz H Muhammad Yunus, memang tak punya nama. Bahkan, bangunan khusus sebagaimana majelis taklim pun tidak ada, karena kegiatannya dilaksanakan di rumah sang Ustadz yang akrab disapa Guru Yunus tersebut.

Namun, setiap Senin dan Sabtu, selepas Salat Ashar digelar majelis taklim yang dipimpin Guru Yunus di rumahnya tersebut. Untuk Senin dan Sabtu, khusus bagi jemaah perempuan yang ingin belajar ilmu agama. Sedangkan untuk jemaah laki-laki, dilaksanakan tiap Selasa malam, selepas Salat Isya.

Meski tak punya pelang nama, pengajian tersebut selalu dipadati orang, khususnya kaum perempuan. Mereka antara lain dari lingkungan sekitar, dari Desa Hiking, Banua Jingah hingga Desa Kias, Kecamatan Batangalai Selatan.

Majelis Taklim Ustadz Yunus adalah tempat pengajian dengan konsep penyampaian ceramah nonformal. Setidaknya, kesan itu yang dirasakan seorang jemaah yang rutin mengikutinya.

“Bahasa yang disampaikan mudah dimengerti. Karena disampaikan dengan cara sederhana dan tidak formal. Kalaupun menggunakan kitab, kami juga diberi penjelasan dan contoh-contohnya, sehingga mudah dipahami,” ujar seorang anggota jemaah, Hj Bintun.

Anggota jemaah lainnya, Heldawati, mengatakan materi yang disampaikan Ustadz Yunus adalah hal-hal yang biasanya terjadi sehari-hari, baik menyangkut hubungan manusia dengan manusia  maupun hubungan manusia dengan Allah. “Penyampaiannya santai, dan mudah dicerna,” ujar dia.

Saat ditemui Serambi Ummah, Ustadz Yunus, mengatakan pengajian di rumahnya itu dimulai sejak 2000. Saat itu jemaahnya masih di lingkungan sekitar rumahnya. Seiring waktu, sejak 2005 anggota jemaah makin bertambah, khususnya untuk pengajian siang hari yang diikuti para perempuan. Akhirnya, khusus perempuan dilaksanakan dua kali dalam seminggu.

Menurut dia, pengajian tersebut sampai sekarang masih rutin dilaksanakan, kecuali pada Ramadan dan Rabiul Awal, bertepatan Maulid Nabi Muhammad SAW, diliburkan.

Ditanya mengapa majelis taklimnya yang tak diberi nama, ustadz kelahiran 18 Januari 1960 itu mengatakan merasa tak perlu nama, karena bukan sebuah organisasi formal. Termasuk dalam hal menggalang dana, di pengajian itu tak pernah mengedarkan celengankepada jemaah.

Halaman
12
Editor: Dheny
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved