Edisi Cetak

Airmata Irna

SUNGGUH tak pernah kukira sebelumnya, istriku sekarang punya kebiasaan baru yang sangat tak terpuji

Airmata Irna
BPOST GROUP/Denny
Ilustrasi 

Oleh: Nonon Djazouly

SUNGGUH tak pernah kukira sebelumnya, istriku sekarang punya kebiasaan baru yang sangat tak terpuji; membuatku sedih, jengkel dan bingung. Sedih tentu saja, karena kebiasaan barunya ini  sangat berdosa. Jengkel karena ia sulit dinasihati, dan bingung karena aku tak mengira ia tiba-tiba bisa punya kebiasaan jelek seperti ini. Bayangkan, hampir setiap hari kini bibir mungilnya yang bagus itu, digunakannya untuk menggunjing orang ...

Sebelum menikah dulu, ia sama sekali tak pernah menampakkan kebiasaan  ini. Tetapi kini, sudah tak terhitung berapa orang yang digosipkannya, sudah tak terhitung lagi berapa kali aku pernah menegurnya bahkan menghardiknya. Beberapa hari ia bisa mengunci mulut mungilnya itu, tapi tak lama kemudian kembali ia latah menggosip orang. Yang juga membuatku bingung sebenarnya, apa latar belakang atau motivasi dia berbuat itu.

Iri…? Kurasa tidak. Kebutuhannya toh selalu kupenuhi, apa yang dia minta selalu kutuluskan, sehingga penampilannya pun tak kalah dengan orang lain.  Lalu apa….? Bingungku tak habis habis.

Pembantuku yang bisanya cuma manggut-manggut. Dikatakannya si Nori itu menyebalkan, suka berpakaian seksi mentang-mentang cantik dan bertubuh montok,  dan juga suka senyum-senyum sama suami orang. “Jangan-jangan dia itu perek… “ katanya sambil memonyongkan mulutnya.

Saat itu aku diam-diam mencuri dengar dari ruang kerjaku. Tapi esok harinya kudengar ia malah memuji-muji si Nori; mengatakan Nori itu baik hati karena suka memberi uang terlebih pada tukang angkut sampah. Menurutku hal ini menggambarkan, bahwa sebenarnya tak ada perasaan iri dalam hatinya terhadap si Nori. Jadi hanya iseng? Ya, mungkin saja kelakuannya itu hanya karena iseng. Iseng iseng berhadiah dosa….!

Satu peristiwa lagi, pernah ia memuji-muji Zus Lita tetangga depan rumah kami.  Ia katakan Zus Lita itu sudah cantik, pintar lagi mengendalikan usaha seorang diri setelah bercerai dengan suaminya. Menurutnya Zus Lita adalah satu sosok yang patut dicontoh, karena usahanya makin hari makin maju hingga karyawannya makin bertambah, ini adalah salah satu bentuk kepedulian terhadap masalah pengangguran di negara kita.

Tapi beberapa hari kemudian ia menyatakan keheranannya kenapa Zus Lita yang relatif masih muda itu, tak pernah kelihatan akrab dengan lelaki. Kemana mana selalu dengan teman perempuan. Ujung-ujungnya dia bilang jangan-jangan Zus Lita itu seorang lesbi, dan mungkin saja hal itulah penyebab perceraiannya dengan suaminya dulu… Ya Allah, aku mengurut dada.  Tak salah kalau ada orang yang pernah menjuluki istriku ini si Mulut Ember.

“Irna, esok ada pengajian khusus ibu-ibu di rumah Pak Haji Khalid. Kau hadiri saja pengajian itu, ajak juga si Fadmi “ kataku singkat pada Irna. Aku ingin dia mendapat siraman rohani dari pengajian itu, agar dia bisa sadar dari sifat buruknya.

Sore harinya sepulang kerja, kutanya Fadmi tentang tingkah laku istriku saat menghadiri pengajian tadi. Mulanya Fadmi enggan menceritakan tentang nyonya besarnya ini, tapi setelah kutanya terus menerus dia pun berterus terang, bahwa majikannya itu tadi selalu mengomentari  penampilan ibu-ibu yang hadir di sana. Yang duduk di depan dikatakannya dandanan terlalu menor dan sapuan bedaknya seperti adonan pisang goreng, ada lagi ibu-ibu yang dikatakannya berpakaian seperti badut dan sebagainya.

Halaman
123
Tags
Cerpen
Editor: Dheny
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved