Edisi cetak

Satu Suara

ANAK-ANAK kecil berlarian, di tepi jalan yang belum beraspal, mereka tidak takut tersandung batu,

Satu Suara
BPost Group
Ilustrasi

Oleh: Amin Khairullah

ANAK-ANAK kecil berlarian, di tepi jalan yang belum beraspal,  mereka tidak takut tersandung batu, karena jalanan tidak beraspal bukanlah alasan untuk tidak berlari bagi anak-anak desa itu. Anak-anak kota juga banyak tidak berlarian, walau jalanan kompleks mereka beraspal.

Suasana senja membuat berlari mereka seperti mengejar matahari yang akan tenggelam, seolah ingin menarik tangan matahari agar kembali meninggi ke langit, mereka ingin siang tetap panjang, agar mereka bisa terus bermain tanpa lelah, tanpa rasa ngantuk untuk tidur.

Sebenarnya tidak karena itu, mereka berlari untuk belajar mengaji di sebuah masjid satu-satunya di desa itu, dan satu-satunya guru mengaji yang mereka takuti adalah Pak Ridwan.

Pak Ridwan secara tidak langsung memerintahkan anak-anak itu berlari di setiap ketika senja, karena petuahnya ‘Jika terlambat, terimalah mudharat’.

Desa itu bernama Karang Bunga, bukanlah desa yang seperti taman bunga, hanya desa yang dipenuhi para imigran dari Pulau Jawa, sebuah nama memang sebuah nama, atau ada pengertian lainnya.

Orang asli Banjarmasin yang tinggal di sana atau pun mahasiswa yang sedang kuliah kerja nyata di desa itu akan merasa jauh dari Kalimantan Selatan, karena semua warga menggunakan bahasa Jawa, sehingga kaki terasa sedang berpijak di daerah banyak candi.

Begitu pula dengan aku, padahal jarak rumahku dari tempat KKN ini tidak terlalu jauh. Namun suasana dan kultur di desa karang bunga seperti menjadi jalan berliku-liku yang membuatku merasa jauh, kadang aku tidak mengerti dengan bahasa yang warga ucapakan, aku seperti terasing dari Banjarmain, aku belum terbiasa.

Waktu yang terus berjalan membuatku sampai pada terbiasa dan menjadi betah, entahlah mungkin aku telah suka dengan desa ini. Kata Ibu Siti Nurbaya, rasa suka itu bisa lahir seiring waktu dan kebiasaan. Yang pasti aku sudah mulai betah di sini, cuma itu diskripsi yang ingin kusampaikan.

***

Halaman
123
Tags
Cerpen
Editor: Dheny
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved