Edisi Cetak

Kekasih Kedua

Suara di ujung telepon kembali membuat Marisa kecewa. Ragi, suaminya, kembali untuk kesekian

Kekasih Kedua
BPost Group

Oleh: Muhammad Saleh

Dalam ini Mas lembur lagi, jadi silakan makan duluan sama anak-anak, ya.”

Suara di ujung telepon kembali membuat Marisa kecewa. Ragi, suaminya, kembali untuk kesekian kalinya tidak bisa makan malam bersama ia dan anak-anak. Alasannya selalu sama, pekerjaan kantor yang menumpuk.

“Ya sudah kalau begitu. Tapi Mas jangan lupa makan, nanti maagnya kambuh lagi,” pesannya seraya menarik napas panjang.

“Iya, sayang. Dah....muaah...”

Klik!

Kecup mesra dari seberang tak membuat perasaannya nyaman. Ada sesuatu yang ia rasa kini telah hilang dari Ragi. Kebersamaan yang sempat membuat Marisa merasa menjadi keluarga yang sempurna seakan menguap begitu saja.

“Ayah masih kerja, Bu?” tanya Sahid anak sulungnya ketika Marisa kembali ke meja makan. Dielusnya rambut si sulung dengan lembut.

“Iya, sayang. Sekarang ayo kita makan,”

“Tapi Nindi mau disuapin ayah, Bu,” rajuk anak bungsunya dengan wajah cemberut. Sambil melipat kedua tangannya di dada,

“Sini, biar ibu saja yang suapin,”

“Nggak mau! Nindi mau ayah yang nyuapin.”

Marisa hanya bisa bersabar menghadapi sikap manja putrinya itu. Ia memang sangat dekat dengan sang ayah, sehingga Nindi merasa seperti kehilangan ketika ayahnya tidak ada di sampingnya.

***

“Anak-anak ingin diajak ke pantai hari libur besok, Mas. Mas bisa kan temenin anak-anak? Kita sudah lama tak libur bersama,” cetus Marisa sambil merapikan dasi suaminya. Ragi tak langsung menjawab. Ekor matanya hanya menatap lurus wajah istrinya yang sudah hidup bersamanya selama sepuluh tahun.

“Tapi....besok Mas sudah janji sama klien. Bagaimana kalau liburannya minggu depan saja? Mas pasti bisa,” tawarnya dengan ringan tanpa bisa menangkap ekspresi kekecewaan di wajah Marisa.

“Mas sekarang terlalu sibuk, sehingga tak ada waktu lagi keluarga.” Marisa mencoba mengendalikan nada suaranya agar tak terdengar seperti marah. Ia tak ingin menyulut pertengkaran dengan suaminya.

“Mas kerja keras begini juga buat  kalian.”

“Adik hanya takut....,” Marisa ragu melanjutnya kalimatnya. Ragi menatap istrinya dengan kening bertaut.

“Takut apa?”

“Takut Mas punya perempuan lain selain adik,”

Seketika wajah Ragi berubah pias. Ia jadi gelagapan sehingga tas kantor yang siap ia bawa terjatuh ke lantai. Ragi mencoba menutupi kebingungannya dengan tawa sumbang. Namun, Marisa sudah menangkap kejanggalan lain. Tak biasanya Ragi bersikap gelagapan seperti itu.

“Ah... Sayang jangan berpikiran yang tidak-tidak. Sama Mas. Kamu jangan terlalu banyak menonton sinetron. Mas benar-benar sibuk kerja,” kilah Ragi mencoba santai.

Pikiran Marisa melayang pada obrolan dengan sahabatnya dua hari yang lalu. Tanda-tanda suami yang berselingkuh adalah sering berbohong dengan berbagai alasan. Dan itu dapat terlihat dari sikap Ragi saat ini.

***

“Ma... Itu ayah....” Tunjuk Nindi yang melihat seorang lelaki sedang duduk makan di restoran siap saji. Marisa sedang membawa putri kecilnya itu untuk membeli perlengkapan sekolah.  Di hadapan lelaki itu duduk seorang gadis muda dengan rambut panjang tergerai. Mereka tampak sangat akrab. Terlihat dari cara berbicara dan tawa ringan mereka.

Marisa sempat tersentak. Itukah klien yang Ragi maksud? Atau justru merupakan wanita idaman lain suaminya. Belum lagi Marisa melanjutkan percakapan hatinya, Nindi sudah keburu menariknya untuk menyusul sang ayah.

“Ayah...!”

Kontan saja Ragi terkesiap. Ia tak menyangka akan bertemu Marisa dan putrinya di tempat itu. Terlambat. Ia sudah tak bisa menghindar ataupun kabur. Ragi menjadi salah tingkah.

“Jadi perempuan ini klien, Mas?” Marisa mencoba tenang dengan menekan gemuruh hatinya yang bergejolak laksana badai.

“Ibu pasti Bu Marisa. Perkenalkan nama saya Santi, eksekutif manajer sebuah showroom terkenal di kota kita.”

Dengan ragu Marisa menjabat tangan Santi. Ekor matanya menatap Ragi penuh tanda tanya.

“Sebenarnya Mas ingin membuat kejutan di hari ulang tahun perkawinan kita dengan menghadiahkan sebuah mobil untuk adik. Tapi... Mas sudah tertangkap basah di sini. Kalau tak dijelaskan sekarang, pasti adik berpikiran macam-macam nanti,” jelas Ragi menjawab keraguan Marisa.

“Lalu kenapa Mas belakangan sering sibuk?”

“Pak Ragi hanya bisa bertemu kalau sudah pulang kerja, jadi alasan lembur satu-satunya alasan untuk bisa pulang terlambat.” Santi yang menyahut dengan ramah dan senyum termanisnya.

“Ayah makan di sini kenapa nggak ngajak Nindi. Nindi juga lapar tahu...” Dengan polosnya Nindi menyela omongan mereka. Ketiganya kontan tertawa, dan mencairkan suasana yang hampir tegang.

“Saya kira Mas....”

“Selingkuh?” tebak Ragi cepat.

Marisa mengangguk.

“Mana mungkin Mas akan menghianati wanita yang telah melahirkan anak-anak Mas dengan penuh perjuangan. Adik adalah kekasih kedua Mas yang paling setia.”

“Kedua? Jadi Mas punya kekasih lain lagi?” Marisa mulai merajuk.

Ragi tertawa ringan melihat gelagat istrinya itu. “Iya. Kekasih pertama Mas adalah ibu. Orang telah melahirkan Mas ke dunia ini. Hehe....”

Marisa meninju Ragi gemas karena telah merasa dikerjai. Ada sebercik rasa iri yang tiba-tiba muncul di hati Santi melihat kemesraan keduanya. (*)

Tags
Cerpen
Editor: Dheny
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved