Peggy: Rayakan Kematian di Sepertiga Malam

Allah Swt. menciptakan malam agar hambanya bisa beristirahat, setelah bekerja dan mencari nafkah di siang hari.

Peggy: Rayakan Kematian di Sepertiga Malam
net
peggy melati sukma

SERAMBIUMMAH.COM - Allah Swt. menciptakan malam agar hambanya bisa beristirahat, setelah bekerja dan mencari nafkah di siang hari. Namun, makna malam hari bukan sekadar untuk tidur dan beristirahat. Ada hakikat yang lebih mendalam dari penciptaan malam, salah satunya adalah untuk beribadah kepada Allah Swt., khususnya di sepertiga malam terakhir.

“Sepertiga malam terakhir bukan hanya bemakna dari sisi peribadatan, tapi juga bermakna luas dalam kehidupan,” jelas aktris Peggy Melati Sukma, yang setelah berhijab kini juga dikenal sebagai penceramah.

Peggy menjelaskan bahwa dalam Surat Yasin: 37, Allah Swt. telah menyebutkan bahwa malam merupakan tanda-tanda kekuasaan-Nya. Kemudian dalam Surat Yunus: 67, Allah menjelaskan kembali bahwa penciptaan malam dan siang adalah karena di malam hari Allah ingin agar hamba-hamba-Nya beristirahat kepada-Nya.

Kedua ayat tersebut kemudian dijelaskan lebih lanjut melalui Q.S. Az Zumar: 42, ketika Allah menjelaskan dua kondisi, dimana Allah memegang nyawa kita, yaitu ketika mati dan ketika tidur.

“Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir.” (Q.S. Az Zumar: 42)

Peggy menjelaskan bahwa ayat di atas merupakan ayat yang paling dahsyat, karena seharusnya membawa kesadaran bagi setiap manusia. Sebuah kesadaran bahwa ketika tidur, maka kita sedang menyerahkan nyawa kita secara sukarela kepada Sang Pencipta.

“Jadi, tidur adalah sebuah keadaan dimana Allah mengambil nyawa kita. Mereka yang waktunya sudah tiba tidak Allah kembalikan nyawanya, dan mereka yang belum tiba waktunya dikembalikan lagi,” jelas Peggy.

Di siang hari, hamba-hamba Allah sibuk beraktivitas untuk mengejar kehidupan dunianya, karena itu diciptakanlah malam agar kita bisa beristirahat. Ini adalah sebuah tanda-tanda kekuasaan Allah, yang seharusnya kita maknai lebih dalam. Tidak ada orang yang tidak senang ketika waktu tidur tiba, tapi kita luput memaknai bahwa tidur yang kita anggap menyenangkan itu adalah proses penyerahan nyawa kepada Allah Swt.

“Ini berarti seharusnya kita dapat merayakan kematian, karena setiap malam kita bersuka cita ketika akan beristirahat,” jelasnya.

Namun istirahat di malam hari sesungguhnya tidak hanya tidur semata. Bangun di sepertiga malam untuk beribadah pun seharusnya bisa menjadi ajang istirahat bagi setiap Muslim. Salah satu makna kenapa kita diminta bangun di sepertiga malam terakhir adalah agar kita bisa beristirahat terlebih dahulu di awal malam. Seperti sabda Rasulullah agar kita menyerahkan hak badan terlebih dahulu sebelum beribadah di sepertiga malam terakhir.

“Coba bayangkan kalau Allah menyuruh kita untuk beribadah di awal malam, kita nggak tidur-tidur nanti. Setelah ibadah selesai tahu-tahu sudah tengah malam, dan kalau sudah tengah malam biasanya kita sulit tidur.”

Bagi Peggy, sepertiga malam terakhir merupakan proses dahsyat dalam membongkar hidup dan mentransformasi malamnya. Siapapun yang ingin bertemu dan menjemput Tuhannya di sepertiga malam terakhir, otomatis harus membongkar terlebih dahulu kehidupannya yang kacau balau agar menjadi teratur.

“Allah sudah berjanji akan bertemu hamba-Nya di sepertiga malam, maka seharusnya itu menjadi cita-cita bagi setiap Muslim, agar terdorong untuk mentransformasi malam untuk beribadah kepada Allah. Mana mungkin orang bisa bangun di sepertiga malam, kalau pola hidupnya seperti saya dulu? Jam satu malam saja masih kerja, masih rapat. Kapan mau ketemu sama Tuhannya?” kenangnya.

Peggy menambahkan kalau seharusnya kita amat berterima kasih kepada Allah, jika kehidupan kita diberikan keberkahan, kesehatan, harta, dan anak-anak yang baik, padahal kita tak pernah menjemput-Nya di sepertiga malam.

“Tanpa berjuang menjemput Allah di sepertiga malam saja, kita sudah dikasih semua yang baik-baik. Padahal ada sebagian hamba-Nya yang berjuang menjemput Allah di sepertiga malam, memohon agar tobatnya diterima, agar doanya dikabulkan.”

Islam mengajari kita untuk tidak membabi buta mengejar dunia. Dalam bukunya “Kujemput Engkau di Sepertiga Malam”, Peggy menceritakan bagaimana dedikasinya yang begitu tinggi kepada profesinya, hingga rela mengorbankan segala hal untuk mencapainya. Pencapaian yang didapatkannya memang luar biasa di mata manusia, tapi tidak ada artinya jika dikaitkan dengan menjemput Allah di sepertiga malam terakhir.

“Inilah saat untuk menjemput Allah. Terkadang kita maunya dijemput, tapi tak pernah ada usaha untuk menjemput Allah terlebih dahulu. Padahal selama ini Allah telah menjemput kita dengan berbagai cara, seperti peristiwa jungkir balik saya di buku ini. Akhirnya, Allah buat kita tidak bisa menolak lagi jemputan-Nya. Jadi, sebaiknya kita duluan deh yang menjemput Allah,” tuturnya.  
 

Editor: Edinayanti
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved