Ketika Tertimpa Kefakiran

sehingga ujian yang Allah berikan kepada tiap hamba tidak lah sama disesuaikan dengan kapasitas orang terebut.

Ketika Tertimpa Kefakiran

SERAMBI UMMAH.COM - Dunia merupakan ujian yang Allah berikan untuk hambaNya guna memilih mana yang layak mendapat surgaNya atau masuk kedalam nerakaNya.

Allah sebagai pencipta sekaligus maha mengetahui segala hal tentang hambanya, sehingga ujian yang Allah berikan kepada tiap hamba tidak lah sama disesuaikan dengan kapasitas orang terebut.

Kadar ujian seseorang bergantung pada kuat dan lemah imannya, semakin kuat iman seseorang semakin berat ujian yang ia terima dan semakin besar pula pahala yang ia dapatkan jika bersabar. Allah berfirman :

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? (2) Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta". [QS Al 'Ankabut : 2-3]

Kefakiran juga merupakan ujian Allah untuk menguji kadar keimanan kita, apakah kita akan bersabar atau berputus asa dan mendustakan janji Allah??.

Bagi orang yang sedang diuji dengan kesempitan harta ada 2 hal yang harus diingat :

Pertama : Berlindung kepada Allah subhanahu wata’ala dari kefakiran. Dan memohon kepada Allah agar diberikan kecukupan dan penjagaan kehormatan, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam beliau berlindung dari kefakiran. Beliau mengucapkan :

"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa malas, kepikunan, terlilit hutang, dan dari kesalahan dan dari fitnah neraka serta siksa neraka, dan dari fitnah kubur dan siksa kubur dan dari buruknya fitnah kekayaan dan dari buruknya fitnah kefakiran serta fitnah Al Masih Ad Dajjal. Ya Allah, bersihkanlah kesalahan-kesalahanku dengan air salju dan air embun, sucikanlah hatiku dari kotoran-kotoran sebagaimana Engkau menyucikan baju yang putih dari kotoran. Dan jauhkanlah antara diriku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat". [HR Bukhari]

Beliau juga bersabda :
"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran, kekurangan dan kehinaan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari melakukan kezhaliman atau dizhalimi". [HR Bukhari]

Kedua : Rela terhadap ketetapan Allah subhanahu wata’ala. Jika seorang muslim tertimpa kemiskinan atau kekurangan harta maka hendaklah dia bersabar dan rela dengan takdir Allah, karena tidaklah Allah subhanahu wata’ala menciptakan kefakiran melainkan hanya untuk memilah dan menguji hamba. Allah subhanahu wata’ala menjelaskan hal itu dengan sangat gamblang dalam firman-Nya :

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (155) (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". [QS Al Baqarah : 155-156]

Coba kita perhatikan bagaimana Allah subhanahu wata’ala telah menjadikan kekurangan harta sebagai bagian dari bala' yang dengannya Dia menguji manusia. Dan bagaimana pula Allah subhanahu wata’ala menisbatkan ujian tersebut dari diri-Nya dalam firman-Nya : "Sungguh Kami akan menguji kalian". Kemudian perlu kita renungkan pula bagaimana Allah menyebut kekurangan harta sebagai musibah, bagaimana pula Dia memberi kabar gembira bagi orang-orang yang sabar menerima ujian kefakiran dan kekurangan tersebut. Dia pun mengajarkan kepada mereka adab kesabaran berupa istirja' (mengembali kan urusan kepada Allah dengan mengucap inna lillahi wa inna ilaihi raaji'un) dan menjanjikan bagi mereka rahmat dan kesejahteraan.

Ingatlah, bahwa semua orang yang ada di muka bumi ini sedang diuji, orang fakir diuji dengan kefakirannya dan orang kaya diuji dengan kekayaannya.

Ketika Allah subhanahu wata’ala memuliakan Nabi Sulaiman dengan harta dan kerajaan maka beliau berkata, "Ini adalah keutamaan dari Rabbku, untuk mengujiku apakah aku bersyukur ataukah justru kafir" Maka selayaknya seorang fakir juga berkata, "Ini adalah ketetapan Rabbku, untuk mengujiku apakah aku bersabar ataukah ingkar." Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa ujian kefakiran itu lebih ringan dibandingkan ujian kekayaan.

Saudaraku, janganlah engkau bersedih hati dengan kefakiranmu, hadapi kefakiran dengan dua hal : Berlindung kepada Allah subhanahu wata’ala darinya, dan bersabar atasnya. (gic)

Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved