Edisi Cetak

Guru Ngaji

DI permukiman tempat Saufi mengontrak rumah, ternyata belum ada guru ngaji. Banyak orangtua yang

Guru Ngaji
BPost Group

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

DI permukiman tempat Saufi mengontrak rumah, ternyata belum ada guru ngaji. Banyak orangtua yang mengeluh lantaran anak-anak mereka tak bisa mengaji. Padahal, beberapa tahun terakhir pemerintah daerah mewajibkan khatam Alquran pada setiap peserta didik. Keadaan ini tentu saja tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.

Menangkap keprihatinan dan keluhan warga, Pak RT kemudian berinisiatif mendatangi Saufi. Ia tahu anak muda itu dulunya adalah alumni sebuah pesantren di Banjarbaru. Sekarang lagi kuliah di Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari. Pasti dia tidak keberatan meluangkan waktu untuk mengajari anak-anak kompleks mengaji.

Semula Saufi sempat menolak, karena tak yakin akan sanggup mengemban tugas tersebut. Tapi, Pak RT terus membujuknya.

“Kalau bukan kamu, siapa lagi yang dapat diharapkan? Ingat, ini kesempatanmu untuk mengamalkan ilmu yang pernah kau peroleh di pesantren. Nak Saufi pasti paham, ilmu yang tak dipraktikkan itu ibarat pohon tak berbuah.”

Saufi masih diam, mungkin tengah berpikir dan mempertimbangkan tawaran itu.

“Lagi pula saya kira jadwal kuliahmu tidak terlalu padat. Daripada waktumu terbuang, lebih baik digunakan untuk kemaslahatan. Selain itu, nanti kamu bakal dapat gaji. Lumayan buat menambah uang belanja. Namun lebih dari itu, niatkanlah untuk membantu masyarakat sekitar sini. Dan dengan sendirinya kamu juga akan menerima ganjaran pahala dari Allah SWT,” ucap Pak RT.

Saufi manggut-manggut. Tapi, ia belum memberi jawaban.

“Bagaimana, Nak Saufi? Bersedia kan?!” desak pensiunan pegawai BKKBN itu.

“Baiklah,” akhirnya Saufi mengambil keputusan yang disambut Pak RT dengan senyum lebar.

Untuk sementara lokasi pengajian meminjam beranda masjid setempat. Jika dalam perkembangan berikut memungkinkan, baru nanti dibangun gedung TK/TPA. Tapi itu perlu proses. Biarlah tahap awal ini numpang di masjid dulu.

Karena memang sudah lama dinanti-nanti, para orangtua antusias mendaftarkan anak-anaknya mengaji. Suasana masjid pun menjadi lebih hidup. Setiap sore, tepatnya ba’da Ashar, riuh oleh suara anak-anak yang belajar ngaji. Apalagi Saufi cukup pintar melakukan pendekatan, sehingga bocah-bocah itu tampak penuh semangat mengeja dan menghafal huruf-huruf hizaiyah.

Warga juga turut senang. Kini mereka tak perlu lagi khawatir anaknya tak bisa mengaji. Semua berkat andil Saufi. Mereka pun salut dan  menaruh hormat pada anak muda itu – entah siapa yang memulai kemudian berangsur memanggilnya Ustadz  Saufi.

Tak terasa enam bulan telah berlalu. Sebagian besar para santri sudah lancar mengaji. Walaupun masih perlu ditingkatkan lagi sampai betul-betul menguasai tajwid.  Ustadz Saufi cukup puas, pengabdiannya membuahkan hasil yang menggembirakan.

Tapi ternyata keadaan itu tak berlangsung selamanya. Beberapa bulan kemudian para santri mulai malas-malasan turun mengaji. Terutama setiap Senin, Rabu, dan Sabtu yang datang dapat dihitung dengan jari tangan.

Ustadz  Saufi sendiri sempat heran. Setelah ditelisik, rupanya pada hari-hari ituanak-anak lebih memilih ikut les Bahasa Inggris ketimbang ngaji. Saufi hanya bisa mengelus dada sembari mengucap istighfar. Anak-anak tak bisa disalahkan karena mereka mengikuti arahan orangtuanya.

Tidak ingin jumlah santrinya makin merosot, dalam suatu kesempatan di hadapan para orangtua Ustadz Saufi pun mencoba mengingatkan.

“Belajar bahasa asing itu memang penting, makanya ulun juga memilih kuliah jurusan Bahasa Inggris. Apalagi di zaman global sekarang, kemampuan berbahasa Inggris sangat diperlukan. Tapi, jauh lebih penting lagi belajar Alquran karena ini untuk bekal kehidupan akhirat. Setiap muslim seyogianya, bahkan wajib pandai mengaji supaya bisa memahami petunjuk Allah. Sedangkan bahasa Inggris sebatas buat di dunia,” ujarnya.

Para orangtua diam mendengarkan. Beberapa di antaranya yang mulai bisa menebak ke mana arah pembicaraan Ustadz Saufi, tampak menundukkan wajah.

“Terus terang belakangan ini ulun merasa sedih melihat santri-santri tidak sebergairah dulu lagi mengaji. Mereka lebih senang les Bahasa Inggris daripada ngaji. Bahkan sekarang, maaf, banyak yang nunggak SPP yang cuma Rp 20 ribu per bulan, sedangkan biaya les yang Rp 150 ribu tidak pernah telat.”

Mereka yang merasa terkena sindir, tertunduk semakin dalam.

“Ulun berharap semoga setelah pertemuan ini anak-anak kembali rajin mengaji. Semua ini semata demi kebaikan bersama,” ucap Saufi mengakhiri curhatnya.

Besoknya, ruang ngaji kembali sepi. Ternyata imbauannya kemarin sama sekali tak ditanggapi.

Saufi tampak murung. Sungguh ia tak habis pikir, mengapa sulit sekali mengajak pada kebaikan. Padahal, demi kepentingan mereka juga.

“Ternyata zaman sekarang jadi guru ngaji bukanlah pilihan mudah. Lebih sering makan hati,” gumamnya.

Melihat wajah Saufi diselimuti kabut,  Asnan, temannya satu kontrakan, mencoba menawarkan alternatif.

“Buat apa kamu terlalu peduli, sedangkan mereka sendiri menganggap kurang penting. Mendingan kamu seperti aku, mengajar Bahasa Inggris di tempat kursus. Gajinya empat kali lipat bahkan mungkin lebih dari yang kau dapat sebagai guru ngaji.”

“Ini bukan masalah finansial. Tapi, lebih kepada ….”

“Ah, tidak usah kelewat idealis, kawan. Kalau orangtua mereka saja tak menaruh perhatian serius untuk menyuruh anaknya mengaji, lalu apa yang bisa kamu lakukan? Memaksa? Ya, tidak bisa!”

Saufi mencoba tetap bertahan. Siapa tahu akan ada perubahan. Barangkali perlu kesabaran ekstra. Sekali lagi ia melakukan pendekatan pada santri dan orangtua. Tapi hasilnya sama saja: nihil.

Akhirnya, tak ada pilihan lain. Saufi menghadap Pak RT. Ia ingin mundur sebagai guru ngaji. Ia minta maaf karena tak bisa memenuhi harapan beliau. Keputusannya sudah bulat, tidak bisa dicegah lagi.

Mungkin karena malu atau tidak enak dengan warga, Saufi kemudian pindah kontrakan.

Kini masjid tempatnya dulu mengajar ngaji terasa sepi. Setiap sore tak ada lagi suara santri-santri yang melafalkan huruf-huruf hizaiyah.

Sementara di lokasi tinggalnya yang baru Saufi telah beralih profesi menjadi pengajar Bahasa Inggris. Sekarang anak-anak bukan memanggilnya ‘ustadz’, melainkan Master Saufi. (*)

Tags
Cerpen
Editor: Dheny
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved