Gunungan dan Ketupat Brongkos, Tradisi Sambut Ramadan

Warga Kampung Malangan, Kelurahan Tidar Utara, Kota Magelang memiliki tradisi unik untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan

Gunungan dan Ketupat Brongkos, Tradisi Sambut Ramadan
kompas.com

SERAMBIUMMAH.COM,MAGELANG – Warga Kampung Malangan, Kelurahan Tidar Utara, Kota Magelang memiliki tradisi unik untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Warga menyebutnya dengan tradisi "Sadranan" atau "Nyadran". Ritual ini biasanya digelar setiap tanggal 8 Ruwah atau tepat pada Jumat (6/6/2014).

Di Magelang, Nyadran memang hampir menjadi tradisi yang digelar di setiap kampung. Namun di Kampung Malangan ini memiliki prosesi yang unik dan berbeda dengan Nyadran di daerah lain. Yakni, adanya prosesi grebeg gunungan ketupat dan sayuran organik.

Tak hanya gunungan, tersedia juga sekitar 1.000 porsi ketupat dengan makananan khas brongkos dan mi. Di akhir acara, makanan ini disantap bersama seluruh warga.

Iskamal, ketua panitia acara menjelaskan, tradisi tahunan ini memang kental dengan nuansa kebersamaan, gotong-royong, kerukunan, dan saling mengasihi antar-warga.

“Tradisi ini sudah ada secara turun-temurun. Kami akan terus lestarikan hingga anak-anak dan cucu-cucu kami,” tutur Iskamal.

Setiap tahun, Nyadran di kampung yang terletak di kaki gunung Tidar itu mempunyai tema yang berbeda. Tahun ini tema yang diangkat “Sadranan Brayat Agung” yang berarti doa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Menurut Iskamal, doa ditujukan kepada para leluhur yang telah menduhului dan doa keselamatan bagi seluruh umat manusia sekarang dan masa depan.

“Termasuk mendoakan Kiai Selo Branti, leluhur kami yang dimakamkan di kampung ini. Tradisi ini pun bagian dari penghormatan kepada beliau, karena beliau sangat suka dengan makanan ketupat brongkos yang kemudian menjadi ikon tradisi Nyadran di kampong kami,” katanya.

Sebelum gunungan digrebek dan brongkos disantap, para warga sudah berkumpul di jalanan kampung setempat. Mereka menyaksikan kirab gunungan sejauh 500 meter. Iring-iringan makin meriah dengan musik tradisional dan puluhan pemuda setempat yang membawa cething (wadah terbuat dari bambu) berisi ketupat, brongkos, telur dan tempe.

Brongkos sendiri, kata Iskamal, merupakan menu yang sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Magelang. Brongkos merupakan masakan dengan campuran berbagai bahan, seperti kerecek, tahu, telur, daging, kentang, kulit melinjo, kacang tolo, dan buncis. Semua bahan diolah dengan aneka bumbu pawon (bumbu lengkap) ditambah kluwak dan lombok rawit. Rasanya sedap dan pedas.

Editor: Sigit Rahmawan Abadi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved