Jangan Lupakan Asma, Wanita Penyair dan Pemberani

Asma seorang wanita muhajir yang mulia dan tokoh yang besar, karena akal dan kemuliaan jiwa serta kemauannya yang kuat.

Jangan Lupakan Asma, Wanita Penyair dan Pemberani

SERAMBI UMMAH.COM - SELAMA ini mungkin kita lebih dekat dengan sosok Aisyah. Maklum, Aisyah adalah Ummul Mu’minim, darinya umat Islam banyak mendapatkan seluk-beluk kehidupan Rasulullah. Kita sering kali lupa bahwa selain Aisyah, ada juga Asma, yang merupakan saudara kandung. Siapa Asma?

Asma seorang wanita muhajir yang mulia dan tokoh yang besar, karena akal dan kemuliaan jiwa serta kemauannya yang kuat. Asma’ dilahirkan tahun 27 sebelum Hijrah. Asma’ 10 tahun lebih tua daripada saudaranya seayah, Aisyah, Ummul Mu’minin dan dia adalah saudara kandung dari Abdullah bin Abu Bakar.

Asma’ mendapat gelar Dzatun nithaqain (si empunya dua ikat pinggang), karena dia mengambil ikat pinggangnya, lalu memotongnya menjadi dua. Kemudian, yang satu dia gunakan untuk sufrah (bungkus makanan untuk bekal) Rasulullah SAW, dan yang lain sebagai pembungkus qirbahnya pada waktu malam, ketika Rasulullah SAW dan Abu Bakar Ash- Shiddiq keluar menuju gua.

Penduduk Syam mengolok-olok Ibnu Zubair dengan julukan “Dzaatun nithaqain” ketika mereka memeranginya. Maka Asma’ bertanya kepada puteranya itu, Abdullah bin Zubair : “Mereka mengolok-olokkan kamu?” Abdullah menjawab: “Ya.” Maka Asma’ berkata: “Demi Allah, dia adalah benar.”

Ketika Asma’ menghadap Al-Hajjaj, dia berkata: “Bagaimana engkau mengolok-olok Abdullah dengan julukan Dzatun nitha- qain? Memang, aku mempunyai sepotong ikat pinggang yang harus dipakai oleh orang perempuan dan sepotong ikat pinggang untuk menutupi makanan Rasulullah SAW.” Asma’ telah lama masuk Islam di Mekkah, sesudah 17 orang dan berbai’at kepada Nabi SAW, serta beriman kepadanya dengan iman yang kuat Pengamalan Islam Asma’ yang baik.

Pada suatu ketika, datang Qatilah binti Abdul Uzza kepada puterinya, Asma’ binti Abu Bakar Ash-Shiddiq, sedangkan Abu Bakar telah menalaknya di zaman jahiliyyah, membawa hadiah-hadiah berupa kismis, samin dan anting-anting. Namun Asma’ menolak hadiah tersebut dan tidak mengizinkannya memasuki rumahnya. Kemudian dia memberitahu Aisyah: “Tanyakan kepada Rasulullah SAW !” Aisyah menjawab: “Biarlah dia memasuki rumahnya dan dia (Asma’) boleh menerima hadiahnya.”

Asma’ adalah wanita penyair dan pemberani yang mempunyai logika dan bayan. Dia berkata mengenai suaminya, Az-Zubair, ketika dibunuh oleh Amru bin Jarmuz Al-Mujasyi’i di Wadi As-Siba’ (5 mil dari Basrah) ketika kembali dari Perang Jamal: “Ibnu Jarmuz mencurangi seorang pendekar dengan sengaja di waktu perang, sedang dia tidak lari Hai, Amru. Kiranya kamu ingatkan dia tentu kamu mendapati dia bukan seorang yang bodoh, tidak kasar hati dan tangannya semoga ibumu menangisi, karena kamu bunuh seoranng Muslim dan kamu akan terima hukuman pembunuhan yang disengaja. (ipc)

Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved