Nasi Bulu Legit dari Gorontalo

Nasi bulu menjadi makanan favorit warga Gorontalo saat Lebaran ketupat, yang dirayakan pada hari ketujuh setelah Idul Fitri.

Nasi Bulu Legit dari Gorontalo
ANTARA FOTO/Basri Marzuki
Pedagang musiman mengisi bambu-bambu dengan daun pisang yang dijualnya untuk membuat nasi bambu atau nasi bulu. 

SERAMBIUMMAH.COM - Nasi bulu menjadi makanan favorit warga Gorontalo saat Lebaran ketupat, yang dirayakan pada hari ketujuh setelah Idul Fitri. Saat Lebaran ketupat tiba, banyak kendaraan beroda dua dengan nasi bulu terikat pada knalpot yang melintas.

Nasi bulu--bambu dalam Bahasa Gorontalo-- menjadi buruan para pengunjung pusat-pusat perayaan Lebaran ketupat seperti di Kampung Jawa atau Yosonegoro, Kecamatan Tabongo, Kecamatan Bongomeme hingga Limboto.

Salahudin Karim (50), warga Desa Limehu, Kecamatan Tabongo, menyediakan hingga 500 nasi bulu untuk dibagikan kepada orang-orang yang mengunjungi rumahnya saat Lebaran ketupat.

Untuk menjamu para tamu, ia dan keluarganya menyiapkan 500 potongan bambu sepanjang sekitar 60 sentimeter, 150 kilogram beras ketan putih, 50 kilogram beras, dan 100 kelapa.

Ia membuat nasi bulu dengan campuran beras ketan dan beras biasa. Beras yang sudah dibersihkan lalu dicampur dengan santan kelapa, daun pandan serta bawang putih, bawang merah, garam, jahe, dan gula yang sudah dihaluskan.

"Resep khusus kami bawang merah digoreng lalu dicampur bersama beras dan santan sebelum dimasak, kalau warga lain biasanya bawang merah langsung dihaluskan," kata Salahudin.

Setelah tercampur, beras kemudian dimasukkan ke dalam bambu yang sudah dibersihkan dan dialas dengan daun pisang muda. Setelah itu, santan berbumbu dimasukkan sampai penuh dan ujungnya ditutup dengan ampas kelapa.

Bambu berisi beras bercampur santan dan bumbu itu kemudian dikukus selama satu jam lalu diangkat dan diletakkan di atas bara api untuk mengeringkan air pada nasi.

"Ini juga membuat nasi bulu kami berbeda dengan yang lain. Jika yang lain memilih untuk langsung membakarnya, kami justru mengukusnya lebih dulu agar nasinya empuk di bagian dalam dan luar," jelasnya.

Ia mengaku bisa membuat ratusan nasi bulu dalam semalam bersama orang-orang lainnya. Ia sudah lebih dari 20 tahun membuat nasi bulu setiap Lebaran ketupat.

"Satu keluarga yang datang biasanya kami berikan dua hingga tiga bambu untuk dibawa pulang. Kami senang bisa menjamu semua tamu yang datang baik itu keluarga atau bukan," tambahnya.

Tags
tradisi
Editor: Edinayanti
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved