Jejak Pengaruh Islam dalam Budaya Busana Nusantara di Museum Tekstil

Salah satu bukti pengaruh budaya masyarakat Islam di Indonesia adalah adanya perubahan materi corak dan cara berpakaian.

Jejak Pengaruh Islam dalam Budaya Busana Nusantara di Museum Tekstil
KOMPAS.COM/FIRA ABDURACHMAN
Museum Tekstil merupakan gedung bersejarah peninggalan abad ke-19. 

SERAMBIUMMAH.COM - Salah satu bukti pengaruh budaya masyarakat Islam di Indonesia adalah adanya perubahan materi corak dan cara berpakaian. Dalam artikel buku panduan Museum Tekstil yang ditulis Judi Achyadi, seorang kurator tekstil, menuliskan, ”Seni rupa Indonesia banyak menampilkan gambar nenek moyang dan hewan yang tidak diperbolehkan dalam Islam.

Seni masyarakat Islam yang fokus pada dunia bunga telah mendorong penciptaan bentuk tanaman yang dibuat lebih cantik dan bentuk berlebihan dalam seni, seperti yang terlihat pada gaya ‘arabesque’ (bergaya arab)”.

Salah satu koleksi museum tekstil yang memperlihatkan kuatnya pengaruh budaya masyarakat Islam adalah umbul-umbul peninggalan abad ke 19 dari Keraton Kanoman di Cirebon. Umbul-umbul ini dipamerkan di ruang utama Museum Tekstil dalam pameran “Inspirasi Islam Pada Wastra dan Busana Indonesia”.

Selain ukurannya yang besar berwarna biru, coraknya diwarnai tulisan kaligrafi dan simbol Alquran membuat umbul-umbul ini langsung menyita perhatian pengunjung. Di tengahnya terdapat gambar pedang atau biasanya disebut Dhulffaqar. Umbul-umbul biasa digunakan sebagai bendera yang dikibarkan ketika ada acara kerajaan.

Namun dalam sejarahnya, umbul-umbul ini sengaja dikirim oleh Keraton Kanoman di Cirebon kepada penguasa Mangkunegaran di Solo yang saat itu sedang sakit. Umbul-umbul ini digunakan sebagai selimut oleh penguasa Mangkunegaran dengan harapan bisa menyembuhkan penyakitnya.

Busana yang tak asing lagi dalam masyarakat Islam adalah baju kurung dan penutup rambut bagi kaum perempuan. Busana di masyarakat Islam di Indonesia bukan hanya sebagai penutup aurat tetapi berkembang sebagai keindahan berbusana. Judi Achyadi yang berasal dari Kanada juga menulis, ”Bukan karena agama tetapi karena wastra dan busana tersebut terlihat indah dengan warna yang megah dan juga karena nilai prestige-nya”.

Beberapa tradisi busana Islami kaum perempuan yang berkembang di Indonesia adalah baju kurung dan kerudung atau penutup rambut. Baju kurung biasa juga disebut tunik. Dalam literatur yang ada, baju panjang atau baju kurung masuk melalui pedagang dan wisatawan muslim yang datang ke Nusantara.

Penutup kepala juga tidak melulu hanya kain panjang yang ditaruh di kepala. Masyarakat Islam di Indonesia memiliki berbagai gaya lilitan di kepala. Di Jambi misalnya, kain lilitan di kepala perempuan disebut kuluk. Gaya lilitan ini adalah pengaruh dari India. Masuk ke Indonesia dengan mendapat modifikasi dengan kain batik atau songket. Kain lilitan di kepala ini umumnya digunakan dengan baju kurung, terutama di kawasan Sumatra.

Saat ini Museum Tekstil memiliki sekitar 2.000 koleksi tekstil. Gedung Museum Tekstil adalah bangunan tua yang dibangun pada awal abad ke 19. Pada awal 1945, Gedung yang terletak di kawasan Tanah Abang ini juga memiliki sejarah dalam Kemerdekaan Indonesia. Gedung sempat digunakan sebagai markas "Perintis Front Pemuda" dan Angkatan Pertahanan Sipil selama masa perjuangan kemerdekaan. Makanya pemerintah menetapkan gedung ini sebagai bangunan bersejarah.

Kegiatan seru lainnya di Museum Tekstil adalah kelas membatik bagi para pengunjung. Cukup membayar Rp 40.000 bagi wisatawan lokal dan Rp 75.000 bagi wisatawan asing, pengunjung bisa mencoba membatik sendiri di atas kain yang disediakan. Membatiknya dengan canting dan lilin. Museum Tekstil adalah tempat cocok untuk mengenal sebagian sejarah Nusantara ditambah juga pengalaman untuk menghargai budaya busana dan tekstil bangsa sendiri.

Tags
seni islam
Editor: Edinayanti
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved