Ini Penyebab Perceraian di Kota Besar

selain perselingkuhan adalah ketidakmampuan pasangan suami istri dalam mengelola konflik.

Ini Penyebab Perceraian di Kota Besar
Warta Kota/nur ichsan
Risty Tagor saat menjalani sidang perceraiannya dengan Rifky Ballwel, di Pengadilan Agama Jakarta Selatan, Kamis (25/9). Pada kesempatan itu, sidang yang tidak dihadiri oleh Rifky, pihak majelis hakim menjatuhkan putusan verstek pada pasangan muda tersebut. 

SERAMBIUMMAH.COM, SURABAYA - Elly Nagasaputra, konselor pernikahan yang juga pendiri situs www.konselingkeluarga.com menyebutkan, penyebab perceraian yang paling utama dan kerap terjadi di kota-kota besar, selain perselingkuhan adalah ketidakmampuan pasangan suami istri dalam mengelola konflik.

Sedangkan masalah ekonomi, bukan menjadi masalah yang dominan.

Perempuan 47 tahun kelahiran Magelang ini menyebutkan, pada era seperti ini, suami dan istri --atau laki-laki dan perempuan-- tumbuh dengan tingkat pendidikan yang seimbang alias setara.

Paradigma istri harus 100 persen menuruti perkataan suami juga tidak lagi berlaku.

”Jadi masalah utamanya adalah ego. Istri tidak 100 persen mau menuruti apa maunya suami. Kalau istri menganggap kehendak suami tidak tepat, maka istri tidak akan mengalah. Ini berbeda dengan zaman dahulu,” kata Elly.

Selain faktor ego, penyebab perceraian yang juga terjadi di kota besar adalah ekspektasi atau harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Saat akan menikah ataupun saat pernikahan masih seumur jagung, baik istri maupun suami memiliki gambaran yang ideal tentang bagaimana harusnya kebiasaan dan sikap pasangannya.

Namun saat pernikahan berlangsung cukup lama, ternyata realita sama sekali berbeda dengan ekspektasi.

Saat realitas ini tak bisa diterima, muncul konflik yang berujung pada keinginan untuk saling bercerai.

”Nah inilah pentingnya ada konseling pernikahan, yaitu untuk mencocokkan persepsi antara suami dan istri. Karena pada dasarnya, dalam pernikahan itu pasti ada masalah yang sulit dipecahkan yang kadang-kadang berujung ke perceraian,” lanjutnya.

Yuni Apsari, Dekan Fak Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) menambahkan, norma sosial yang semakin kendor menambah gampangnya perceraian terjadi.

Ia melihat sekarang ini  banyak sekali perilaku yang menabrak norma sosial.

Perceraian yang dulu dianggap aib bagi masyarakat karena menjadi bentuk kegagalan, sekarang dianggap bukan masalah. Bahkan di kalangan artis, masalah itu diumbar.

“Mereka sepertinya bangga kalau statusnya janda. Memang tidak ada masalah sih berstatus janda. Tetapi harus ada unsur edukasi, bukan sekadar mengekspos diri,” tegasnya.

Editor: Sigit Rahmawan Abadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved