Karena Pembantu Dokter Ini Tunawicara

Berdasarkan hasil wawancara, maka diketahui bahwa pekerjaan papa Rima adalah dokter di sebuah rumah sakit besar

Karena Pembantu Dokter Ini Tunawicara
shutterstock

SERAMBI UMMAH.COM - KETIKA sedang membereskan alat main, kami kedatangan anak perempuan berusia 4 tahun. Berbadan gemuk, putih, cantik… ah pokoknya menggemaskan. Ketika di sapa anak cantik ini hanya tersenyum. Namanya Rima. Begitu dikenalkan oleh ibunya.

“Saya mau daftarkan Rima sekolah di sini, bisa Bu?” Tanya Mama Rima.

“Oh iya silahkan masuk dulu, Mama Rima,” tutur saya seraya mempersilahkan mama Rima masuk ke ruangan.

Berdasarkan hasil wawancara, maka diketahui bahwa pekerjaan papa Rima adalah dokter di sebuah rumah sakit besar. Mamanya seorang notaris yang terpilih sebagai Anggota DPRD Provinsi. Sehari-hari Rima diasuh oleh Mbak Waroh pembantu keluarga. Dulu Mbak Waroh sejak masih remaja bekerja pada orangtua mama Rima. Hingga mama Rima berkeluarga, Mbak Waroh pun dibawanya ke rumah barunya karena orangnya jujur, kerjanya memuaskan. Mbak Waroh tak bisa bicara alias tunawicara.

Akibat kesibukan kedua orangtua, sejak Rima dilahirkan hingga usianya 4 tahun hanya Mbak Waroh yang selalu di dekatnya. Bahkan tidur pun dengan Mbak Waroh ini.

Hari pertama di sekolah setiap guru menyapa Rima, ia hanya menjawab dengan senyuman. Jika menginginkan sesuatu Rima menarik tangan saya lalu menggunakan bahasa isyarat seperti berbicara dengan Mba Waroh. Sejak usia 0-4 tahun, Rima hanya berkomunikasi menggunakan bahasa nonverbal dengan Mbak Waroh. Karena sejak usia 0 tahun tak ada orang dewasa yang mengajaknya berkomunikasi menggunakan bahasa verbal, maka meskipun Rima normal tidak memiliki gangguan pendengaran maupun gangguan bicara, tapi ia mengalami keterlambatan bicara.

Misal ketika dia ingin minum, dia menarik tangan saya lalu menggenggam tangannya kemudian disimpannya di mulut seraya mendongakkan kepalanya.

“Neng Rima mau minum?” tanya saya.

Ia pun menganggukan kepalanya.

Sambil membungkukan badan saya berkata padanya, “Minum, Rima mau minum…”

Ia pun mencoba mengulang dengan terbata-bata. “Mi…num,” tukasnya.

Setiap hari itu yang kami lakukan. Mengajaknya berbicara satu kata demi satu kata. Meskipun usianya 4 tahun saya mengajak bicara Rima seperti kepada bayi. Mengenalkan banyak nama benda. Ketika berinteraksi tak lupa kami selalu memverbalkan semua kegiatan yang dilakukannya. Begitu setiap hari.

Anak-anak belajar dari ketiga gurunya yaitu orangtua, guru, di sekolah dan lingkungannya. Maka, penting bagi orangtua berhati-hati dalam memilih orang yang akan tinggal satu lingkungan dengan anak, termasuk pembantu. Pembantu, bisa jadi, dalam keadaan tertentu, akan menjadi orangtua ketiga di rumah bagi anak-anak kita. Ini agar tidak terjadi lagi hal yang menimpa Rima. Bila input yang diberikan kepada anak kurang apalagi metode yang digunakan salah, maka anak akan mengalami gangguan bicara atau bahasa sehingga menyebabkan gangguan perilaku dan kecerdasan.

Orangtua harus memberikan pendampingan penuh kepada anak, berkomunikasi dan berinteraksi secara benar, sehingga anak mendapatkan stimulasi yang tepat. Tak bisa bicara adalah satu kekurangan yang diujiankan oleh Allah SWT kepada kita. Namun, tanpa menghilangkan respek padanya, kita pun hendaknya bisa memerhatikan kebutuhan verbal anak-anak kita untuk selalu mengungkapkan apa yang berkaitan dengannya, atau paling tidak bisa berbicara. Anak adalah titipan mahabesar dari Yang Mahakuasa untuk kita jaga, dan kitalah yang paling berhak untuk mendidik dan mendampinginya. (ipc)

Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved