Silaturahim Massal dalam Tradisi Grebeg Agung Keraton Kanoman Cirebon

Suara takbir terus menggema, berkumandang hingga seluruh penjuru. Di kompleks situs peninggalan sejarah tempat

Silaturahim Massal dalam Tradisi Grebeg Agung Keraton Kanoman Cirebon
KOMPAS.com/Muhamad Syahri Romdhon
Sultan Raja Muhamad Emirudin dari Kesultanan Keraton Kanoman (jubah emas) didampingi sesepuh, keluarga, dan masyarakat menuju Masjid Agung Astana, Kecamatan Gunung Jati Cirebon, Minggu (5/10/2014). 

SERAMBIUMMAH.COM, CIREBON – Suara takbir terus menggema, berkumandang hingga seluruh penjuru. Di kompleks situs peninggalan sejarah tempat salah satu wali menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, ratusan warga dalam dan luar Cirebon sudah berkerumun sejak pagi.

Mereka berjejer rapi, menanti dan menyambut kedatangan Sultan Raja Mohamad Emirudin dari Keraton Kanoman Cirebon, yang didampingi para sesepuh, keluarga dan abdi dalem. Dengan jubah keemasan, Sultan bersama rombongan dan masyarakat menuju Masjid Agung Astana di Kompleks SItus Gunung Jati, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, untuk menunaikan Solat Idul Adha 1435 Hijriyah berjamaah, yang dilanjutkan silaturahim massal.

Tradisi yang sudah membudaya dan turun-temurun sejak lama ini diberi nama sebagai Tradisi Grebeng Agung.

Dengan berpakaian serbaputih, satu per satu jemaah memasuki Masjid Agung Astana dan memenuhi barisan untuk shalat. Di lantai paling atas, Sultan bersama patih, menempati palinggihan atau tempat duduk dan shalat khusus untuk Sultan.

Sama seperti shalat Idul Adha di daerah lain, Sultan bersama seluruh jamaah beribadah seperti yang diajarkan Rasululah melalui para wali. Setelah salam, mereka bersama-sama mendengarkan kotbah dari sesepuh keraton dan memanjatkan doa.

Selepas doa, Sultan duduk dan bersalaman, bersilaturahim, bertatap muka bersama para sesepuh, keluarga, kerabat, dan abdi dalem Keraton Kanoman. Prosesi inilah yang ditunggu-tunggu ratusan jamaah yang datang dari dalam dan luar Kota Cirebon.

Para jemaah pria, anak-anak, dan remaja menyusul barisan awal untuk bersalaman. Ada juga yang tidak sabar hingga menyerobot barisan untuk dapat bersalaman lebih awal. Meski demikian, mereka masih tampak tertib dan terkendali.

Sebagian warga menilai, dapat bersalaman dan bersilaturahim langsung dengan Sultan merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri. Hal itu karena tidak semua orang bisa berjabat tangan, dan bertemu Sultan, apalagi warga sulit bertemu Sultan.

Salah satunya adalah Siti Jubaedah (38 tahun), warga Cikarang, Bekasi, Jawa Barat. Siti mengaku bahagia dapat bersalaman dengan Sultan. Ia bersama rombongan saudara dan tetangganya sudah sejak malam tiba di Masjid Agung Astana.

"Hampir tiap tahun saya ke sini bersama rombongan. Niatnya hanya ingin shalat berjemaah bersama Sultan sekaligus silaturahim dengan Sultan Keraton Kanoman Cirebon," kata Siti usai bersalaman dengan Sultan.

Setelah bersilaturahim, Sultan Raja Muhamad Emirudin diiringi para sesepuh, keluarga, dan abdi dalem melewati tujuh pintu untuk menuju pemakaman salah satu Wali Sanga, Sunan Syekh Syarif Hidayatullah. Mereka akan berkunjung, membersihkan makam, dan mendoakan para orang tua, dan keluarga yang lebih awal menemui Sang Pencipta.

Juru Bicara Keraton Kanoman Cirebon, Ratu Raja Arimbi Nurtina, menyebutkan, tradisi Grebeg Agung dimaknai sebagai perwujudan rasa syukur dan menjadi media pertemuan atau silaturahim antara sultan dan keluarga serta masyarakat luas.

“Tradisi ini kemudian menjadi salah satu budaya, yang tak terlepas dari masyarakat Cirebon dan umumnya masyarakat Indonesia,” ujarnya.
 

Tags
tradisi
Editor: Edinayanti
Sumber: Serambi Ummah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved