Sade, Dusun Berumur 935 Tahun di NTB

Suku Sasak merupakan suku asli di Pulau Lombok. Desa Sasak yang cukup tersohor yakni di Dusun Sade, Rembitan-Lombok Tengah

Sade, Dusun Berumur 935 Tahun di NTB
Tribunnews.com/Theresia Felisiani
Seorang perajin tenun di Dusun Sade, Lombok 

SERAMBIUMMAH.COM, MATARAM - Suku Sasak merupakan suku asli  di Pulau Lombok. Desa Sasak yang cukup tersohor yakni di Dusun Sade, Rembitan-Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Untuk bisa melancong ke Dusun Sade, dapat ditempuh dengan perjalanan sekitar 30 km dari Kota Mataram.

Warga di dusun ini menerima adanya listrik masuk dusun. Serta tetap pula melestarikan tradisi budaya mereka seperti bangunan rumah, adat istiadat, hingga tarian adat.

Saat tiba di dusun Sade, kita langsung disambut oleh pemandu wisata yang adalah warga asli Dusun Sade. Di sana kita mengisi buku tamu, lalu diajak berkeliling desa termasuk bertamu ke dalam rumah warga Sasak.

"Di sini masih memegang kuat tradisi dan budaya. Dusun Sade ini dusun tertua di sini. Dibentuk tahun 1079, sudah 935 tahun," ucap Vitro, warga Dusun Sade, Minggu (12/10/2014).

Vitro melanjutkan luas Dusun Sade yakni sekitar 5 hektar dan dihuni oleh 152 kepala keluarga. Dimana satu rumah hanya boleh dihuni oleh satu kepala keluarga. Total penduduk ada 700 orang.

Sehingga apabila ada warga Dusun Sade yang menikah mereka harus membangun rumah di luar Dusun Sade.

Pantauan Tribunnews.com, rumah-rumah di dusun ini terbuat dari bambu dan kayu kemudian atap bangunannya terbuat dari bahan jerami.

Setiap rumah di dusun Sade terbagi menjadi dua bagian. Bagian depan untuk tidur kaum pria. Sementara bagian dalam yang harus melalui dua atau tiga anak tangga menuju bagian atas berisi dapur, lumbung dan tempat tidur perempuan.

Lantai rumah warga Sasak di Dusun Sade terbuat dari tanah liat. Dan untuk membersihkannya, warga menggunakan kotoran kerbau yang dioleskan ke lantai sebanyak seminggu sekali.

Tipe rumah suku sasak ada tiga jenis yakni Bale Bontar yakni rumah dengan keluarga lebih dari satu anak, Bale Podong untuk warga yang baru menikah atau orangtua untuk menghabiskan masa tua. Dan terakhir ialah Bale Tani.

Meskipun sudah dimasuki listrik, tapi cara hidup warga di Dusun Sade masih tradisional. Mereka masih memasak menggunakan tungku dan kayu bakar.

Aktivitas dan mata pencaharian warganya mayoritas sebagai petani. Sementara kaum perempuan apabila sedang dilanda kekeringan biasanya mereka menenun dan menjajakan kerajinan seperti gelang, kain, selendang, kopiah dan lainnya.

"Pekerjaan utama disini petani, dengan sistem sawah tadah hujan panen satu tahun sekali," kata Vitro.

Selama berkeliling di Dusun Sade, kita bisa juga melihat proses penenunan, pembuatan benang dari bahan baku kapas secara tradisonal, berkunjung ke masjid hingga bersosialisasi dengan warga.

Tags
dusun sade
Editor: Sigit Rahmawan Abadi
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved