Pusaka Tumbak Tunggul Wulung dan Tunggul Nogo Dijamas

Dua pusaka andalan Kerajaan Wengker (Ponorogo sekarang), tumbak Tunggul Wulung dan tumbak Tunggul Nogo, serta sebuah Cemeti, dijamas

Pusaka Tumbak Tunggul Wulung dan Tunggul Nogo Dijamas
TRIBUN JOGJA/HASAN SAKRI GHOZALI
Sejumlah keluarga dan abdi dalem Pura Mangkunegaran melakukan kirab pusaka mengelilingi benteng di Kota Solo, Jawa Tengah, Senin (06/12/2010). Kirab tersebut diadakan untuk memperingati malam 1 Suro tahun baru penanggalan jawa atau 1 Muharam 1432 Hijriyah.

SERAMBIUMMAH.COM, PONOROGO - Dua pusaka andalan Kerajaan Wengker (Ponorogo sekarang), tumbak Tunggul Wulung dan tumbak Tunggul Nogo, serta sebuah Cemeti, dijamas secara bersamaan di Paseban menjelang petang, Jumat (24/10/2014).

Setelah itu, benda pusaka tersebut kemudian diserahkan ke Bupati Ponorogo untuk disimpan di Pringgitan (Pendopo Pemkab Ponorogo). Kegiatan sakral tersebut, bagian dari kegiatan tahunan Grebeg Suro menjelang 1 Suro (1 Muharam) yang selalu diadakan Pemkab Ponorogo.

Meski sakral, namun sejumlah warga yang menikmati parade budaya tersebut mengeluhkan karena tidak ada artis ibu kota yang memeriahkan pergelaran budaya tersebut.

Menanggapi itu, Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Pemkab Ponorogo, Sapto Jadmiko mengakui dalam kirab pusaka kali ini tidak melibatkan artis ibukota.

Tetapi panitia sengaja menampilkan finalis Kakang Senduk Ponorogo, serta penampilan siswa setingkat SMP, SMA dan perguruan tinggi. "Memang sengaja kami tak menghadirkan artis ibu kota seperti tahun kemarin," katanya.

Sementara petugas dari Polres Ponorogo, yang mengamankan acara itu diwajibkan mengenakan blangkon. "Setiap Grebeg Suro kami memang harus memakai blangkon, sebagai bentuk polisi cinta seni dan budaya," pungkas Kasubag Humas Polres AKP Imam Khamdani.

Editor: Sigit Rahmawan Abadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved