1 Muharram, Warga Banyuwangi Gelar Ritual Sapi-sapian

Peringatan tahun baru Islam 1 Muharram atau bulan Suro juga dilakukan sebagian warga Banyuwangi.

1 Muharram, Warga Banyuwangi Gelar Ritual Sapi-sapian
kompas.com
1 Muharram, Warga Banyuwangi Gelar Ritual Sapi-sapian Kecamatan Glagah, Banyuwangi menggelar tradisi sapi-sapian keliling desa, Sabtu (25/10/2014). 

SERAMBIUMMAH.COM, BANYUWANGI- Peringatan tahun baru Islam 1 Muharram atau bulan Suro juga dilakukan sebagian warga Banyuwangi. Seperti yang dilakukan warga Desa Kenjo, Kecamatan Glagah yang melaksanakan bersih desa dengan mengelar ritual Sapi-sapian, Sabtu (25/10/2014),

Dalam tradisi warga Desa Kenjo, sapi-sapian adalah mengarak dua lelaki dewasa yang berdandan dengan kostum sapi berwarna merah lengkap dengan alat bajaknya.

Dua orang ini berkeliling kampung-kampung dengan diiringi para petani yang mengusung hasil panenan, mulai padi, sayur mayur, buah-buahan, dan juga hewan ternak.

"Memasuki tahun yang baru, kami mengelar acara syukuran dan berdoa kepada Tuhan. Dan tradisi sapi-sapian ini menjadi cara kami untuk mengucakpan syukur sekaligus melestarikan tradisi lelulur yakni bercocok tanam selaras alam," papar Busairi, tokoh adat Desa Kenjo.

Busairi menambahkan, tradisi sapi-sapian sebelumnya pernah vakum cukup lama di desanya. Karena itu, dirinya bersyukur acara sapi-sapian bisa kembali digelar tahun ini.

"Sapi-sapian baru kembali digelar sejak dua tahun terakhir. Sebelumnya tradisi bersyukur ini terakhir kali dilaksanakan pada tahun 1962," kata Busari.

Busairi tidak bisa menjelaskan secara rinci, mengapa tradisi sapi-sapian sempat terhenti sekian lama. Yang diingatnya, saat itu terjadi peristiwa politik besar di Indonesia dan membuat acara-acara tradisi tertentu harus disetop.

Selain sebagai bentuk syukur, tradisi sapi-sapian juga bertujuan untuk meminta hujan agar petani bisa segera memulai masa tanam.

Desa Kenjo sendiri kata Busairi bukanlah desa yang susah air. Bahkan, di desa ini terdapat mata air yang mengalir sepanjang tahun.

Meski demikian, kehadiran hujan tetap dirindukan oleh petani sebagai penanda waktunya musim tanam padi.

Menurut cerita, tradisi sapi-sapian muncul sejak abad ke-18. Saat itu, ada tiga orang asal Bugis yang membuka lahan di wilayah tersebut setelah sebelumnya menemukan adanya sumber air.

Tiga orang ini kemudian mengolah tanah sawah dengan menggunakan sapi. Berkat kerja keras dan ilmu bercocok tanam yang cukup, saat panen tiba, tiga petani asal Bugis ini mendapatkan hasil yang maksimal.

Ilmu mengolah tanah dan bercocok tanam ini kemudian diwariskan secara turun temurun.

"Anak turun dari tiga orang ini kemudian mengelar tradisi sapi-sapian sebagai pengingat mengenai apa yang telah dilakukan leluhurnya," pungkas Busairi.

Editor: Edinayanti
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved