Waspada, Polusi Udara Picu Gangguan ADHD pada Bayi

Tinggal di daerah yang tinggi tingkat polusi udaranya adalah kerugian besar bagi kesehatan.

Waspada, Polusi Udara Picu Gangguan ADHD pada Bayi

SERAMBIUMMAH.COM - Tinggal di daerah yang tinggi tingkat polusi udaranya adalah kerugian besar bagi kesehatan. Terutama untuk ibu hamil. Studi menunjukkan, bayi yang sejak dalam kandungan terpapar polusi udara rentan mengalami gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif (ADHD).

ADHD merupakan kelainan yang menyebabkan anak tak bisa memusatkan perhatian, hiperaktif maupun impulsif. Anak-anak ADHD pada umumnya akan mengalami gangguan di sekolah dan prestasi akademiknya rendah.

Penelitian menunjukkan, senyawa dalam polusi udara yang disebut polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH) harus diwaspadai.

"Anak-anak yang lahir dari ibu yang terpapar tingkat PAH yang tinggi selama kehamilan memiliki kemungkinan peningkatan gejala  ADHD sampai 5 kali lebih besar,” kata Frederica Perera, seorang profesor di Columbia University Mailman School of Public Health di Kota New York dan penulis pertama penelitian baru ini.

Senyawa PAH adalah produk dari pembakaran bahan bakar fosil yang tidak sempurna, dan diketahui dapat merusak perkembangan sistem saraf. Knalpot kendaraan dan penggunaan bahan bakar minyak perumahan adalah sumber utama dari PAH di kota-kota.

Paparan PAH yang diterima bayi sebelum dilahirkan diukur lewat darah plasenta bayi, terutama DNA ibu yang berikatan dengan molekul PAH.

"Itu semacam memakai sidik jari untuk mengetahui paparan tiap individu," kata Perera. "Hal ini menunjukkan seberapa besar sebenarnya PAH yang diaktifkan menjadi bentuk beracun dan secara langsung dapat merusak DNA."

Dalam penelitian sebelumnya, Perera dan timnya menemukan hubungan antara tingkat paparan PAH yang tinggi saat pralahir dengan risiko kelambatan perkembangan pada usia 3 tahun, nilai IQ rendah pada usia 5 tahun, dan kemungkinan anak mengalami kecemasan, depresi dan masalah perhatian pada usia 6 dan 7.

Penelitian terbaru yang dipublikasikan pada 5 November dalam jurnal PLoS One meneliti anak-anak saat berusia 9 tahun. Selain paparan PAH, diteliti juga paparan asap rokok.

Mereka menemukan gejala ADHD memakai Daftar Perilaku Anak dan Conners 'Parent Rating Scale, yang merupakan dua tes skrining yang menggunakan laporan orangtua mengenai perilaku anak mereka, untuk menentukan apakah anak tersebut menerima evaluasi yang lebih rinci untuk ADHD.

Sepertiga dari 250 anak-anak dalam penelitian tersebut memiliki eksposur PAH tinggi saat di kandungan. Anak-ank itu lima kali lebih mungkin mengalami gejala ADHD moderat, terutama pada gangguan pemusatan perhatian dan tiga kali lipat beresiko pada seluruh poin gejala ADHD.

"Temuan ini dapat mengarah pada cara-cara baru atau cara yang lebih kuat, untuk mencegah ADHD," katanya.  

Editor: Edinayanti
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved