Tertawa Membuat Teman Merasa Tidak Nyaman

Jika para gurunya tertawa ketika melihat ada orang terjatuh, maka anak akan melakukan hal yang sama. Hal ini terjadi karena

Tertawa Membuat Teman Merasa Tidak Nyaman

SERAMBI UMMAH.COM - SUATU kali Pak Hamid—seorang guru—bertanya pada muridnya, “Ada masalah apa Aldo, mengapa menangis? Apakah ada yang sakit?”

Aldo belum menjawab, masih tetap menangis.

Hilmy yang bicara, “Aldo jatuh di sana, Pak Hamid!”

“Oh, Aldo terjatuh, mari Bapak lihat, apakah ada anggota tubuh yang terluka?” tukas Pak Hamid.

Seraya mengusap air matanya, Aldo mulai berbicara, “Gak ada yang luka, Pak, tapi aku tidak nyaman, sakit hati. Waktu aku jatuh, Atta tertawain aku.”

Pak Hami berpaling pada anak yang bernama Atta. “Bagaimana menurut Atta? Apakah benar seperti itu kejadiannya?” tanya Pak Hamid.

Namun Atta diam tak berkata. Muka Atta mulai merona. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Jika ada teman yang terjatuh, yang kita lakukan adalah membantunya bangkit. Tertawa membuat teman merasa tidak nyaman,” tutur Pak Hamid.

Anak-anak belajar dari para gurunya (orangtua, guru di sekolah dan lingkungan). Jika para gurunya tertawa ketika melihat ada orang terjatuh, maka anak akan melakukan hal yang sama. Hal ini terjadi karena anak menyimpan semua pengetahuan yang diterima semua alat indera ke dalam memori otaknya.

Para guru (orangtua, guru di sekolah dan lingkungan) terkadang melakukan kesalahan dalam pendampingan terhadap anak. Seharusnya orang dewasa hanya tertawa di saat ada kejadian atau sesuatu hal yang lucu. Sehingga ketika anak menyaksikan kemudian bertanya, “Kenapa mama tertawa?”, maka mama menjawab, “Mama tertawa karena ada hal yang lucu.”

Jika suatu saat ia melihat mamanya tertawa saat ada orang terjatuh di hadapan mama, anak akan menghubungkan kejadian ini dengan kejadian sebelumnya. Lalu anak ini akan menarik kesimpulan: ketika ada orang jatuh maka itu disebut kejadian lucu. Saat ada kejadian lucu, maka kita tertawa.

Hal tersebut di atas nampaklah sangat sepele. Tak terpikir bahwa dampak yang akan terjadi begitu berbahaya. Bayangkan jika kesimpulan yang diambilnya terus tertanam tanpa ada yang memperbaiki. Kelak saat ia dewasa ketika melihat orang lain terjatuh tak sedikit pun memiliki rasa empati. Baik melihat orang jatuh secara fisik maupun jatuh secara psikis. Tanpa rasa peduli anak ini akan menertawakan orang lain yang sedang ditimpa kesusahan.

Orang dewasa di sekitar anak adalah model bagi mereka. Sepantasnya yang harus orang dewasa lakukan saat melihat sebuah kejadian orang terjatuh adalah memberikan pertolongan. Menawarkan sebuah bantuan yang bisa diberikan dari orang dewasa demikian akan terlahir generasi yang memiliki rasa empati tinggi. Generasi yang menyenangkan bagi semua orang. Generasi yang hidup damai penuh cinta pada sesama. Generasi yang membuat Islam semakin dibanggakan karena keindahan akhlak para pemeluknya.

Indahnya jika kita bisa memperbaiki kesalahan kecil yang kita lakukan saat mendampingi buah hati. (ipc)

Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved