Keluarga Ustazd

Tetangga sekitar selalu menganggap ada yang lebih dari keluarga itu. Mulai dari penataan fisik rumah, hingga pada keserasian jiwa

Keluarga Ustazd

SERAMBI UMMAH.COM - ADA gula ada semut. Ada yang menarik, selalu ada yang berminat. Tapi, berhati-hatilah buat sang semut. Karena mati semut bisa karena manisan.

Berbahagialah keluarga yang menjadi pusat perhatian positif masyarakatnya. Tetangga sekitar selalu menganggap ada yang lebih dari keluarga itu. Mulai dari penataan fisik rumah, hingga pada keserasian jiwa penghuninya.

Keluarga model itu, kerap menjadi rujukan dan panutan. Persis seperti doa yang diajarkan Allah dalam Alquran. Ya Allah, anugerahkanlah kami pasangan dan keturunan yang menjadi penenteram hati, dan jadikanlah kami pemimpin orang-orang yang bertakwa.

Sayangnya, tak semua yang tampak seperti air memang benar-benar air. Ada fatamorgana. Dari jauh menjadi harapan, begitu dekat justru kegersangan. Setidaknya, hal itulah yang kini dialami Pak Jojo.

Ayah dua anak ini punya ujian khusus dari Allah. Ujian itu sepintas enak, tapi punya beban yang lumayan berat. Masyarakat sekitar rumah Pak Jojo begitu kepincut dengan keberadaan keluarganya. Bisa dibilang, mereka jadi sosok teladan: pintar, ramah, dermawan, harmonis, dan alim.

Empat julukan baik seperti pintar, ramah, dermawan, dan harmonis; masih belum jadi beban buat Pak Jojo. Itu biasa. Wajar karena dia dan isterinyalah yang lulusan sarjana di kampung itu. Selebihnya, cuma SD dan SMP. Paling tinggi SMA. Dan itu pun sudah bisa terpilih jadi kepala kampung. Sekali lagi wajar. Biasa. Apalagi, ia dan isterinya bekerja sebagai dosen, guru mahasiswa. Lha, jadi mahasiswa saja sulit, apalagi jadi gurunya. Teramat wajar kalau masyarakat menganggapnya sebagai keluarga pintar.

Namun, soal alim itulah yang sangat memberatkan Pak Jojo. Menurut anggapan Pak  Jojo, alim bisa disetarakan dengan fuqoha. Atau orang yang serba tahu tentang urusan agama. Mulai dari ilmu akidah sampai soal fikih. Di kampung yang baru setahun ia tinggali itu, sarjana bidang pertanian ini terkenal dengan panggilan ustadz: ‘Ustat Jojo’.

“Duh, berat banget!” ujar Pak Jojo ke isterinya suatu kali. Berat, karena jangankan hafal tiga puluh juz Quran, setengah juz saja masih sering lupa. Bahkan, bacaan tilawahnya belum standar tajwid. Panjang pendek masih belum pas, makhraj masih kerap tertukar. Pendek kata, Pak Jojo merasa jauh dari sebutan ustat. (ipc)

Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved