Budaya Berbasis Religi Jadi Identitas Cirebon

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengapresiasi warisan budaya berbasis religi yang

Budaya Berbasis Religi Jadi Identitas Cirebon
KOMPAS IMAGES/FIKRIA HIDAYAT
Keraton didirikan tahun 1529 oleh Pangeran Mas Mochammad Arifin II yang merupakan cicit Sunan Gunung Jati. Di dalam keraton juga terdapat museum berisi benda pusaka, lukisan koleksi kerajaan serta kereta singa barong. 

SERAMBIUMMAH.COM, CIREBON  - Menteri Pariwisata Arief Yahya mengapresiasi warisan budaya berbasis religi yang terus lestari di Cirebon, Jawa Barat. Hal tersebut diutarakannya usai Tradisi Grebeg Mulud yang diadakan oleh Kesultanan Kasepuhan Cirebon, Sabtu (3/1/2015) malam.

"Bangga melihat tradisi Cirebon, kelestariannya terus dipelihara secara turun temurun seperti ini," ungkapnya.

Di Keraton seperti ini, gelaran budaya berbasis religi memang kerap diadakan. Selain acara Grebeg Muludan yang diadakan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad, juga ada beberapa gelaran budaya berbasis religi lainnya. Antara lain, Safar Apeman saat bulan Safar datang dan Syura'an saat bulan Sura. Saat acara-acara seperti ini digelar, Keraton Kasapuhan ramai pengunjung. Menariknya, bukan hanya orang dewasa saja yang datang tapi juga remaja hingga anak kecil pun antusias datang.

"Ini yang menarik. Budaya sebenarnya masih jadi alasan 60 persen orang datang saat berkunjung ke suatu tempat. Budaya berbasis religi ini termasuk di dalamnya. Kalau orang ramai datang ke sini hari ini, itu karena budaya juga," tambahnya.

Harapan Arief, ke depannya acara budaya seperti ini bisa terus lestari dan kuat menjadi identitas dan jati diri bangsa, khususnya untuk kearifan lokal Cirebon.

"Kebudayaan ini jadi semacam identitas. Di sisi lain bila dilihat dari nilai ekonomi, acara seperti ini harusnya dapat mensejahterakan rakyat dimana saat banyak pengunjung datang ke sini, masyarakat sekitar dapat menjajakan kuliner atau pun barang-barang berbasis ekonomi kreatif seperti batik dan kerajinan tangan lain," imbuhnya.

Malam itu, Arief juga sempat memberi contoh negara-negara yang berhasil merawat tradisi berbasis religi. "Coba lihat Mekah dan Roma, dua negara ini berhasil mendatangkan banyak wisatawan karena tradisi yang dirawat, dampaknya tentu kesejahteraan masyarakat. Itu tandanya kebudayaan berbasis religi memiliki masa depan yang baik, kita punya potensi itu," tutupnya.

Editor: Edinayanti
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved