Jima Hewan dan Manusia, Apakah Sama Tujuannya?

Hubungan seks adalah perbuatan yang mendatangkan kenikmatan. Dan hubungan tersebut juga bertujuan untuk mendapatkan keturunan.

Jima Hewan dan Manusia, Apakah Sama Tujuannya?

SERAMBI UMMAH.COM - HUBUNGAN badan antara dua insan yang berlainan jenis sudah menjadi kodrat setiap manusia. Bahkan, hewan pun melakukan hal yang sama. Hanya saja, manusia diberi akal untuk membedakan dan mengetahui mana waktu dan tempat yang baik untuk melakukan jima’.

Sedangkan hewan tidak mengenal batasan waktu atau pun tempat. Bahkan, melakukannya pun tidak selamanya dengan satu pasangan. Karena kebanyakan hewan termasuk dalam kategori payboy/girl, kalau menurut bahasa kita, artinya cenderung berganti-ganti pasangan. Namun, apakah hubungan seksual manusia dan hewan mempunyai tujuan yang sama?

Hubungan seks adalah perbuatan yang mendatangkan kenikmatan. Dan hubungan tersebut juga bertujuan untuk mendapatkan keturunan. Walau terkadang ada pula manusia yang melakukan hubungan tersebut hanya untuk kesenangan saja dan tidak menghendaki kehamilan.

Hubungan seks untuk mendapatkan kelezatan, kepuasaan batin dan kesenangan, tidak dapat dipisahkan. Dengan maksud dan tujuan memperoleh keturunan dan kelangsungan hidup manusia.

Hewan, dalam melakukan hubungan seks, berlaku hukum instinc (watak) yang sudah ditentukan dan tidak bisa dielakkan. Apabila indung telur dari hewan betina sudah turun, dia mencari yang jantang untuk mendapatkan kepuasan. Bila benih jantan sudah bertemu indung telur maka si betina akan menolak bahkan dengan sikap keras, tidak mau diajak kawin lagi. Melalui watak hewan yang demikian itu, terjamin kelangsungan hidup jenis hewan. Ini membuktikan bahwa hubungan seksual pada hewan betina tidak punya rasa kesenangan.

Berbeda dengan wanita, masih ingin merasakan kelezatan, kenikmatan dan kesenangan dalam melakukan jima’, walaupun sudah hamil tua. Namun, ada kalanya juga wanita yang hamil menolak diajak berhubungan dengan suaminya. Lalu, suami marah dan menuduh dengan umpatan kebencian.

Di sinilah suami harus menyadari, bahwa penolakan istri itu bukanlah karena benci. Melainkan suatu perubahan sikap dan sifat menjadi manja dan kekanak-kanakan yang disebabkan oleh pengaruh kehamilan. Laki-laki yang berpikiran sehat, akan dapat membedakan antara kebencian dan sifat manja. Meskipun pada lahirnya ada persamaan antara keduanya. Tetapi pada hakikatnya berlainan, bahkan berlawanan. Jika bisa membedakan mana yang sifatnya lahiriah dan mana sifat yang batiniah, barulah dapat dikatakan bijaksana. (ipc)

Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved