Jujur Dimarahi, Nggak Jujur Apa Lagi

Ketika menemukan anak berkata tidak benar, hal pertama yang harus dilakukan oleh kita sebagai orang tua adalah evaluasi diri.

Jujur Dimarahi, Nggak Jujur Apa Lagi

SERAMBI UMMAH.COM - “BU Guru, anak saya ini sekarang tukang bohong. Saya tahu karena adeknya suka menyangkal kalau kakaknya ini bicara, tapi setiap saya tanya dia nggak ngaku. Harus saya apakan ya ini anak?” ungkap seorang mama dengan ketus.

“Silahkan duduk dulu, Bunda. Setelah lebih tenang baru kita bicara, saya antar dulu anaknya ke kelasnya ya Bun,” tukas saya.

Tak lama kemudian, saya kembali menghampirinya, lalu bertanya, “Sebenarnya ada masalah apa Bunda?”

“Ini Bu, si kakak kerjanya bohongin saya, setiap hari terus aja bohong. Udah saya hukum, terus dia janji nggak akan bohong lagi. Eh, besoknya gitu lagi, saya harus gimana bu?” tanyanya.

“Pertama, Bunda harus tenang dulu. Setelah tenang baru kita bisa berpikir apa yang harus kita lakukan. Kalau Bunda dalam keadaan emosi, Bunda tidak akan bisa berpikir benar. Sehingga tidak akan mampu menemukan solusi yang tepat untuk masalah yang sedang dihadapi,” terang saya.

Orang tua ketika mengetahui anaknya bicara tidak benar langsung sewot, marah-marah, juga memaki-maki. Kadang sampai memberikan hukuman fisik. Namun ketika anak berkata benar, kita lupa memberikan apresiasi. Apa lagi jika mereka mengatakan hal yang sebenarnya namun bertolak belakang dengan keinginan kita, jangankan apresiasi, yang ada malah dimarahi. Akhirnya mereka bingung, apa yang harus dilakukan, jujur dimarahi, gak jujur apa lagi.

Ketika menemukan anak berkata tidak benar, hal pertama yang harus dilakukan oleh kita sebagai orang tua adalah evaluasi diri. Mengapa mereka bisa melakukan hal itu. Lebih-lebih jika anak kita masih usia dini, dari mana mereka belajar hal sedemikian? Jangan-jangan kitalah orangtuanya yang menyebabkan mereka memilih untuk berkata tidak benar.

Anak kita akan berkata jujur jika mereka dalam keadaan merdeka. Tidak tertekan atau terintimidasi oleh ke“aku”an kita sebagai orang tua. Perlu kita renungkan, apakah selama ini kita memodelkan berkata yang benar kepada mereka? Atau tanpa sadar kita sudah mengajarkan berkata tidak benar kepada mereka?

Apabila kita merasa sejak anak kita bayi hingga hari ini kita sudah memodelkan sikap jujur, tapi anak kita sebaliknya maka evaluasi diri lagi. Jangan-jangan anak kita takut kepada kita sehingga ia tak sanggup mengatakan hal yang sebenarnya. Ia ingin kita tak memarahi atau menghukumnya sehingga Ia melakukan hal itu. Meskipun kadang Ia paham, kalau ketahuan berkata tidak benar,akan dimarahi atau dihukum juga.

Saat mengetahui anak usia dini kita belum terbangun sikap jujur sebaiknya kita tenang terlebih dahulu. Berikan waktu pada anak kita untuk tenang juga. Setelah itu, beberapa saat kemudian baru kita beri motivasi, Mama percaya anak mama bisa berkata yang benar. Tak perlu emosi dan mengintimidasi. Tak perlu buru-buru ingin ia berkata benar saat itu. Karena setiap kesalahan yang anak-anak lakukan, pasti ada kesalahan orangtua yang memberinya pengetahuan. Baik disadari atau tidak. (ipc)

Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved