Suami Suami Dekil

Pak Budi bersyukur tergolong orang yang bahagia. Selain isteri shalihat, Allah mengaruniainya dengan anak-anak yang taat

Suami Suami Dekil

SERAMBI UMMAH.COM - Tak semua bunga punya keindahan yang sama. Ada bunga yang enak dipandang, enak pula dicium. Harumnya menggiring kita untuk berada lebih dekat. Ada juga bunga yang indah dipandang, tapi tak enak dicium. Keindahannya cuma untuk dari jauh. Lebih tak enak lagi dengan bunga jenis ketiga. Wajahnya suram, baunya…, oh seram!

Pak Budi bersyukur tergolong orang yang bahagia. Selain isteri shalihat, Allah mengaruniainya dengan anak-anak yang taat. Baginya, dua karunia itu sudah merupakan karunia yang teramat besar. Dan itulah inti dari doa seorang muslim. “Ya Allah, karuniakan kami isteri-isteri dan anak-anak yang bisa menjadi penyejuk mata….”

Betapa indahnya hidup ini. Siang malam dikelilingi para pelipur lara. Senyum isteri yang bisa mengubah dunia suram menjadi tenteram. Celoteh dan tingkah polah anak-anak yang membalikkan duka jadi bahagia. Kalau mengingat-ingat itu, lidah Pak Budi selalu tergerak untuk dzikir dan tahmid. “Maha besar Allah dengan segala karunia-Nya yang tak terhingga,” ucap Pak Budi dengan penuh syukur.

Tapi, rasa bahagia Pak Budi pernah juga tergores luka. Sebenarnya, goresan itu kecil buat ukuran umum. Bahkan, nyaris tak terasa. Tapi, buat Pak Budi itu teramat besar. Kalau mengingat itu, Pak Budi jadi malu. Malu sama Allah, isteri, anak, dan dirinya sendiri.

Goresan itu terjadi ketika Pak Budi lupa merubah kebiasaan. Selagi lajang, Budi muda tergolong aktivis yang super sibuk. Aktif di masyarakat, di kampus, dan berbagai organisasi Islam. Pagi pergi, pulang menjelang pagi. Paling cepat, ia pulang jam sebelas malam. Badan letih, pikiran capek, tidur pun jadi pilihan menarik. Jangankan pakai minyak wangi, mandi saja cuma sekali sehari. Itu pun cuma pagi.

Buat suasana aktivis, pemandangan itu memang bisa dianggap biasa. Tapi, gimana kalau yang mengelilingi Pak Budi adalah seorang isteri yang lembut, senang rapi dan cinta bersih. Juga, anak-anak yang butuh teladan. Wah, suasana jadi kurang mesra. Boro-boro tertarik, melihat saja sudah jijik.

Masih segar ingatan Pak Budi ketika pulang malam. Saat itu, ia langsung menghampiri isteri tercintanya. Padahal, bajunya sudah basah kering dengan keringat. Tiba-tiba bau tak sedap menyergap seisi ruangan. Dengan susah payah, isterinya menahan bau yang tak karuan. Bahkan, sempat bersin berkali-kali. Mau bilang khawatir tersinggung. Terus diam, bikin kepala tak karuan. Sayangnya, Pak Budi tak sadar diri.
“Sudah mandi, Mas,” tanya sang isteri tiba-tiba. “Sudah,” jawab Pak Budi spontan. “Kapan?” tanya sang isteri lagi. “Tadi pagi,” jawab Pak Budi ringan.

Pernah juga, dengan tiba-tiba mertua berkunjung. Biasanya, Minggu pagi bisa dimanfaatkan Pak Budi buat tidur lagi. Itu karena malamnya penuh terisi dengan aneka kesibukan: rapat, kunjungan, dan lain-lain. Dengan perasaan tak berdosa, Pak Budi menghampiri tamu kehormatannya dengan mata agak belekan. Rambut ikalnya masih tegak berdiri seperti pemain sepak bola terkenal dari Inggris. “Eh, ada bapak sama ibu. Silakan duduk!” ucap Pak Budi sambil merapikan sarung.

Saat itu, sang isteri cuma bisa bingung. Malu. Mau negur sudah di hadapan. Mau diam bikin perasaan tak karuan. Mungkin isteri Pak Budi cuma bisa kebayang-bayang dengan reaksi ayah ibunya. “Kamu ini. Ngurus suami saja kok tak becus. Gimana kalau ada anak?”

Pak Budi juga tergolong makhluk yang susah rapi. Busana Pak Budi mudah ditebak: kaos, celana katun, dan sandal kulit. Kadang-kadang, cuma sandal jepit. Sebenarnya, Pak Budi punya sepatu. Tapi, itu hanya terpakai saat jadi pengantin. Selebihnya, Pak Budi kembali kepada habitatnya. Apa adanya.

Halaman
12
Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved