Preman Asmara Anak Kyai

Saya menyesal menanyakan tentang hal rumah tangganya. Prasangka baik saya ternyata kali ini sia-sia

Preman Asmara Anak Kyai

SERAMBI UMMAH.COM - Saya tertegun tak dapat berkata-kata lagi. Membisu terkunci rapat. Menatapnya miris. Saya menyesal menanyakan tentang hal rumah tangganya. Prasangka baik saya ternyata kali ini sia-sia. Bahkan sama sekali menjadi tidak mengenakan. Duhai sahabat, maafkan saya jika saya membuka luka di hatimu. Sungguh saya tidak tahu atas apa yang kau alami. Dan bukan pula maksud saya mengorek luka itu dan membuatmu perih kembali. Bukan.

Saya menghiba pada Pencipta. Ya Rabb, apa memang pantas Engkau mengujinya dengan hal itu? Dia sahabatku. Aku mengenalnya karena kebaikannya. Juga karena kesalehannya. Juga kefasihannya. Apalagi saat mendengar tausiyah dan khutbahnya. Saya kira, setiap wanita salehah dapat saja akan jatuh hati padanya. Dia pantas jadi imam bukan saja di mimbar jama’ah Jum’at. Tetapi juga imam dalam biduk rumah tangga idaman.

”Gimana, sudah ada tanda-tanda kehamilan isteri?”

“Belum”.

“Wah, tandanya masih diberikan kesempatan untuk bulan madu terus. Saya pun harus menunggu sembilan bulan. Baru kemudian Allah berkenan mengizinkan isteri saya hamil”.

“Oo begitu?”

”Ya. Saya sih asik-asik aja. Tapi, isteri yang uring-uringan”.

”Apa antum tidak mendengar isu tentang ana?”

Air mukanya berubah tak lagi rileks. Kalimat itulah yang mengantar saya harus diam seribu bahasa. Kalimat-kalimat selanjutnya malah membuat hati saya seperti bersalah. Ya Rabb … I don’t believe it.

”Ana dikhianati isteri. Dua bulan setelah pernikahan, saya baru tahu bahwa dia masih menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya”.

Halaman
1234
Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved