SerambiUmmah/
Home »

Ihwal

Menjadi yang Kedua

semakin penasaran. Menanyakan siapa gerangan jodoh yang menghampiri si Mbak yang usianya telah menginjak pertengahan kepala empat ini.

Menjadi yang Kedua

SERAMBI UMMAH.COM - TELEPON genggam di tangan saya bergetar beberapa kali, sebaris nama muncul di layar. Beberapa detik kemudian saya sudah mendengar suara di ujung sana. Nadanya terdengar gembira. Saya bertanya-tanya apa gerangan yang hendak disampaikannya. Akhirnya karena tak sabar sekaligus iseng, saya menggodanya, “Mau nikah iya Mbak?” Ia pun berseru tertahan, berusaha menyembunyikan kegembiraannya dan mengiyakan pertanyaan saya.

Saya pun semakin penasaran. Menanyakan siapa gerangan jodoh yang menghampiri si Mbak yang usianya telah menginjak pertengahan kepala empat ini. “Akhirnya”… itulah yang menghiasi benak saya. Ia pun menanyakan apakah saya mengenal sebuah nama. Seseorang yang aktif di sebuah wilayah dakwah yang tak jauh dari tempat saya tinggal. Tiba-tiba saya merinding. Hati-hati saya bertanya, “Mbak, beliau sudah berkeluarga ya?” Jawabannya yang membenarkan membuat hati saya yang sudah dihiasi oleh warna-warni kebahagiaan kini juga diwarnai rasa lain.

Jadi istri kedua. Itulah kabar gembira sekaligus rasa “ngilu” yang datang pada saya hari itu. Poligami. Kata itu masih sering saya eja dengan berbagai rasa hingga hari ini. Walaupun itu adalah perintah-Nya dan bagian dari perjalanan hidup junjungan agung Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam yang harus kita teladani tetapi secara manusiawi, saya belum mampu mengejanya dengan baik dan benar hingga hari ini.

Persoalan ada di Hati

Menjadi yang kedua, ini yang sering mengganjal dalam hati. Yang kedua berarti menjadi yang setelah orang lain. Terlepas dari kata orang sebagai newcommer, pengganggu, perusak dan lain sebagainya, siapapun punya kemungkinan untuk jadi yang kedua. Entah yang pertama masih disisi atau sudah tiada.

Akan tetapi, jadi yang kedua, sungguh persoalan dan jawabannya sebenarnya ada di dalam hati. Berkutat pada apa yang kita pikirkan sebagai persoalan, padahal jalan keluar dari soal tersebut sejatinya juga tergantung bagaimana kita membebaskan diri dari apa yang kita pikirkan dan bertindak yang terbaik.

Lalu apakah menjadi yang kedua berarti mengundang petaka? Pastinya, bila hal ini hanya menyengsarakan hamba-Nya, Allah Subhanahu Wata’ala tidak akan pernah mengizinkan poligami (An-Nisa [4]:3) atau membolehkan seseorang yang telah berpisah dengan pasangan sebelumnya menikah kembali.

Tepas dari segala kelemahan hati, pelajaran yang saya peroleh pernikahan “si Mbak” sunguh membuka cakrawala baru. Di hari pernikahannya, sang calon suami datang bersama istri pertama dan anak-anaknya. Mulai dari akad terucap hingga resepsi bergulir menjelang senja, istri pertama dan anak-anaknya setia menemani. Semua hal mereka lakukan bersama. Makan bersama hingga bergurau dan menyambut tamu-tamu yang datang. Semua mata yang datang merekam peristiwa itu hingga sekarang dan terkadang masih diputar ulang dalam perbincangan.

Hari-hari si Mbak pun menjadi lebih sibuk. Tak hanya berkunjung ke sanak-saudara atau menghadiri kajian rutin saja, kini hari-hari di akhir pekannya pun penuh terisi dengan agenda bersama sang istri pertama dan keluarga besarnya. Saat ditanya, apakah beliau bahagia, si Mbak ini menjawab sumringah, “Sebenarnya lebih enak begini, kami jadi punya waktu lebih banyak mengerjakan sesuatu untuk ummat.”

Jawaban ini menghadapkan kita pada realitas bahwa mengurus rumahtangga memang menyita waktu. Mendidik anak-anak adalah amanah yang harus dipertanggung-jawabkan dunia akhirat. Mencari nafkah untuk membiayai kebutuhan rumah tangga pun sangat berat. Jadi, akan lebih menyenangkan bila ada orang yang bersedia berbagi beban.

Halaman
12
Tags
poligami
Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR
Sponsored Content

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help