Aku Ingin Diutus sebagai Pembawa Rahmat, Bukan Azab

Saat itu, di Bukit Uhud, Rasulullah dan kaum Muslimin mengalami kesedihan bertubi-tubi.

Aku Ingin Diutus sebagai Pembawa Rahmat, Bukan Azab

SERAMBI UMMAH.COM - BANYAK orang mengutamakan kebahagiaan dalam hidupnya. Ada yang bahagia dengan mengejar harta. Ada yang bahagia dengan mengejar impian-impiannya. Tak sedikit pula yang bekerja keras demi memenuhi semua kebutuhan keluarga, agar kemudian merasa bahagia. Ya, kebahagiaan yang mereka cari.

Teringat diri akan kisah Rasulullah. Saat beliau ditanya oleh istri tercintanya, Aisyah, “Pernahkah kau alami hal yang lebih berat daripada ketika di Uhud?”

Saat itu, di Bukit Uhud, Rasulullah dan kaum Muslimin mengalami kesedihan bertubi-tubi. Kekalahan kaum Muslimin atas pasukan kuffar, syahidnya 70 sahabat utama, kematian paman tercintanya Hamzah Asadullah, lutut yang terkena perangkap tajam, pelipis yang tertancapi rantai besi, hingga beliau dikabarkan terbunuh sehingga pasukan tercerai-berai. Lalu, masih adakah hal yang lebih berat daripada keadaan itu?

Rasulullah menjawab, “Aku mendatangi para pemimpin Thaif; Abdu Yalail bin ‘Amr, Mas’ud bin ‘Amr, dan Hubaib bin ‘Amr Ats-Tsaqafy untuk mengajak mereka kepada Allah.

Salah seorang di antara mereka berkata, “Tirai ka’bah tersobek jika sampai Allah mengutus seorang Rasul.”

Yang lainnya berkata, “Apakah Tuhanmu tak punya orang lain untuk dijadikan utusan?”

Yang lainnya lagi berujar, “Aku tak mau bicara denganmu. Jika kau benar-benar seorang Rasul, aku khawatir mendustakanmu. JIka kau bukan Rasul, maka tak layak bagiku bicara dengan seorang pendusta.”

“Selama tiga hari aku menyusuri tiap sudut Thaif, mengetuk pintu demi pintu, menawarkan Islam pada siapapun yang kutemui, dan mengajak mereka menuju Allah. Namun mereka beramai-ramai mendustakan, mengusir, dan menyakitiku,” Rasulullah melanjutkan kisahnya.

“Aku pun pergi dengan kegundahan di hati, hingga tiba di Qarn Ats-Tsa’alib. Ketika kuangkat kepala, tampaklah Jibril memanggilku dengan suaranya memenuhi ufuk, ‘Sesungguhnya Rabb-mu telah mengetahui apa yang dikatakan dan diperbuat oleh kaummu. Maka Dia mengutus malaikat penjaga gunung ini untuk bisa kau perintahkan sesuka hatimu.’

Kemudian malaikat penjaga gunung pun ikut menimpali, ‘Ya Rasulullah, perintahkanlah kepadaku, maka aku akan membalikkan Gunung Akhsyabain ini agar menimpa dan menghancurkan orang-orang yang mengingkari, mendustakan, mengusir, dan menyakitimu.’

Halaman
12
Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved