Ketika Kapal-kapal Pasukan Ustmani Berlayar di Atas Daratan

Setiap orang, dalam menghadapi apa yang terjadi di hadapannya pasti memiliki persepsi yang berbeda beda mengenai hal tersebut.

Ketika Kapal-kapal Pasukan Ustmani Berlayar di Atas Daratan

SERAMBI UMMAH.COM - ALLAH SWT menciptakan kita semua sama, tak banyak perbedaan yang terlalu mencolok. Memberikan modal kehidupan yang sama; pendengaran, pengelihatan, dan hati.

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” [1]

Modal yang kita miliki semua sama. Lalu, mengapa hasil yang didapatkan berbeda? Semuanya terpengaruh oleh cara berpikir kita.

Coba perhatikan. Terkadang, apa yang dipikirkan oleh seseorang berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh orang lain.

Setiap orang, dalam menghadapi apa yang terjadi di hadapannya pasti memiliki persepsi yang berbeda beda mengenai hal tersebut.

Nah, kita perlu mengambil pelajaran penting dari seorang panglima besar Kesultanan Utsmani; Sultan Muhammad Al Fatih ketika akan menaklukkan Konstantinople pada tahun 1453.

Saat itu, dinding Kota Konstantinople bagian laut yang bersebelahan dengan Selat Tanduk Emas dilindungi oleh sebuah rantai raksasa sepanjang 275 meter yang diikatkan pada Menara Eugenius di tembok Konstantinople dan sisi lainnya pada Castellion; tembok segi empat yang ada di Galata. Dengan susunan 60 cm setiap mata rantainya dan tebal besi 4 cm. Rantai ini memberikan sebuah blokade sempurna sehingga tidak satupun kapal bisa melewatinya.

Pada saat itulah Sultan Muhammad Al Fatih mengemukakan sebuah ide yang mungkin dianggap tak mungkin oleh orang lain.

Beliau berkata, “Apabila kita tidak bisa memutuskan rantai itu, kita bisa melewatinya.”

Tahukah Anda bagaimana caranya?

Kapal-kapal pasukan Ustmani berlayar di atas daratan. Dari Selat Bhosporus menuju Teluk Tanduk Emas. Mereka bergerak di atas gelondongan kayu yang dilumuri lemak binatang kemudian kapal kapal itu ditarik. [2]

Inilah yang disebut ‘berpikir berbeda dengan yang orang lain pikirkan’.

Nah, jika kita berada dalam kondisi tersebut akankah kita melakukan hal yang sama?

Jadi, mulailah berpikir beda dengan apa yang orang lain pikirkan. InsyaAllah akan Anda dapatkan hasil yang berbeda pula. (ipc)

Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved