Ikhwan Memesona itu Haram

ia posting banyak membahas tentang syiar islam serta dakwah terkini. Shakila juga berkomunikasi dengannya lewat pesan pribadi

Ikhwan Memesona itu Haram

SERAMBI UMMAH.COM - MALAM itu, sungguh tak ada yang spesial. Shakila masih lesu, mendekap bantal lalu pandangan menerawang ke luar jendela. Ada harap yang tak kunjung terpenuhi, rasa rindu membuncah. Sesosok pemuda rupawan telah menawan hatinya, Fauzi. Perkenalan yang tidak disengaja, dari sebuah grup Komunitas Penulis Indonesia di media sosial facebook.

Tulisan yang sering ia posting banyak membahas tentang syiar islam serta dakwah terkini. Shakila juga berkomunikasi dengannya lewat pesan pribadi, sekadar bertanya alamat hingga hal lainnya. Percakapan demi percakapan telah berlangsung, namun malam kemarin ada sesuatu yang terjadi, Shakila membalikkan badan. Posisinya masih terbaring di atas kasur, dengan posisi tubuh menghadap ke langit-langit kamar.

“Dek, sudah siap menikah?” tanya Fauzi saat chatting.

Tentu saja pertanyaan tersebut dinanti sebagian wanita dari orang yang dicintainya. Begitu juga Fauzi, bermaksud untuk ta’aruf, namun Shakila tidak semudah itu memberi jawaban. Justru menjawab dengan kalimat berbelit, mengalih topik serta bersikap acuh tak acuh, hingga Fauzi berujar bahwa dirinya telah menutup diri. Padahal bukan seperti itu maksudnya, tapi Shakila membiarkan Fauzi dengan sangkaannya sendiri. Mau ditahan pun tidak mungkin; kita adalah pikiran masing-masing.

Sehari setelah kejadian malam itu, Shakila pergi mengunjungi sahabatnya Rukayyah. Mereka berdua duduk di sofa ruang keluarga, kebetulan suami dari sahabatnya itu sedang tidak berada di rumah. Shakila menumpahkan semua pikirannya, bercerita perihal Fauzi yang telah mendominasi hati juga ruang pikirnya akhir-akhir ini.

“Aku harus apa, Rukayyah?” ujarnya sangat gundah.

“Jauhi dia … mungkin itu bukan cinta tapi nafsu,” seru Rukay.

Shakila menatap ruangan dengan hampa; peristiwa ini mengingatkannya kembali pada kejadian beberapa tahun silam. Saat itu ia telah mengutarakan rasa cinta pada ikhwan yang tengah menuntut ilmu di Turki, Raffa; teman seangkatan di Madrasah Aliyah dulu. Namun, lagi-lagi pikiran gadis ini menerawang jauh ke depan, sebab Raffa berstatus seorang pelajar, ia khawatir pernyataan itu akan mengganggunya. Esoknya, Shakila memutuskan pertemanan dengan Raffa, menafikan segala rasa yang sempat tertanam dalam hatinya.

“Mungkin ini bukan cinta, tapi nafsu. Maafkan aku!” ujar Shakila pada Raffa di saat chatting terakhirnya dua tahun silam.

Meskipun begitu, Shakila merasa tidak enak hati. Hingga detik ini masih memikirkan Raffa, bukan bersebab cinta; tapi rasa bersalah telah pergi menjauh di saat yang sama mengutarakan cinta. Ah, sungguh rumit membahas cinta, pikirnya.

Halaman
12
Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved