Hukum Berpuasa Bagi Seorang Musafir

Tetapi, jika panas sangat menyengat, dan kecapaian semakin meningkat, maka berbuka di saat ini sangat diharuskan.

Hukum Berpuasa Bagi Seorang Musafir

SERAMBI UMMAH.COM - ISLAM adalah agama Allah yang memberikan kemudahan kepada penganutnya. Ia bukan syariat yang membebankan, bahkan ia satu syariat yang penuh rahmah untuk membolehkan penganutnya taatkan Allah dalam kadar yang mereka mampu.

Solat jamak dan qasar, begitu juga iftar (berbuka puasa) semasa musafir adalah antara ‘rukhsah’ (kelonggaran) yang Allah berikan untuk hamba-hambaNya. Yang afdhal bagi orang berpuasa saat bepergian adalah berbuka, bagaimana pun keadaannya. Tetapi orang yang tetap berpuasa maka tidak ada dosa baginya, karena rasulullah pernah melakukan ini dan itu, demikian pula para sahabatnya.

Tetapi, jika panas sangat menyengat, dan kecapaian semakin meningkat, maka berbuka di saat ini sangat diharuskan. Adapun alasan kenapa berpuasa bagi seorang musafir sangat dimakruhkan (dibenci), yaitu karena rasulullah pernah melihat seorang lelaki dalam safar yang sangat kecapaian dan tetap berpuasa, beliau berkata kepadanya,

“Bukan termasuk kebaikan, jika tetap berpuasa saat bepergian.” Juga karena sabda beliau yang berbunyi, “Sesungguhnya Allah senang jika rukhsahnya dikerjakan, sebagaimana Dia Membenci jika kemaksiatan dikerjakan.” Dalam lafadh lain, “Sebagaimana Dia senang jika azimah-azimahnya dikerjakan.”

Dan dalam hal ini tidak ada perbedaan diantara para musafir, apakah itu yang bepergian dengan mobil, unta, perahu, kapal, atau orang yang bepergian dengan pesawat. Karena semua orang diatas, tetap dinamakan sebagai musafir, sehingga berhak mendapatkan keringanan yang diberikan Allah kepada mereka.

Allah mensyariatkan hukum safar (bepergian) dan iqamah (menetap) bagi para hamba-Nya di zaman nabi SAW, dan hukum ini terus berlaku bagi hamba lainnya setelah masa itu hingga hari kiamat. Dia (Allah) Maha tahu apa yang bakal terjadi dari berbagai perubahan dan menjadi bermacam-macamnya jenis alat tranportasi.

Seandainya hukum akan berbeda, tentunya Allah menjelaskan hal itu dalam kitab-Nya, sebagaimana Ia Menjelaskan dalam surat An-Nahl yang berbunyi, “Kami telah menurunkan al-qur’an kepadamu sebagai penjelas atas berbagai hal, juga petunjuk, rahmat dan pemberi kabar gembira bagi kaum muslimin.” (QS. An-Nahl: 89). Allah Juga berfirman dalam surat yang sama, “Dan Dia Menciptakan kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan menjadikannya perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.” (QS. An-Nahl: 8). (ipc)

Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved