Ngabuburit Bukan Ajaran Islam

Mereka anak-anak muda akan keluar rumah masing-masing setelah waktu ‘ashar, lalu secara bergerombol atau perorangan pergi ke alun-alun

Ngabuburit Bukan Ajaran Islam

SERAMBI UMMAH.COM - Ngabuburit adalah satu istilah dari bahasa Sunda yang artinya menunggu datangnya waktu maghrib atau menunggu matahari sore terbenam. Sudah bertahun tahun kebiasaan ini dilakukan oleh masyarakat Sunda (Jawa Barat) khususnya anak-anak muda, akan tetapi keluarga muda (orang muda yang sudah berumah tangga) pun kadang tak ketinggalan ikut berbaur menikmati waktu sore yang cerah.

Mereka anak-anak muda akan keluar rumah masing-masing setelah waktu ‘ashar, lalu secara bergerombol atau perorangan pergi ke alun-alun atau ke tempat keramaian atau juga sekedar jalan-jalan di sekitar jalan alun-alun. Bagi para ibu mungkin hanya sekedar keluar rumah dan bertandang di halaman rumah tetangga. Nah kebiasaan inilah yang disebut ngabuburit.

Kalau di pelosok – pelosok perkampungan Sunda waktu lalu, menunggu datangnya waktu magrib, bagi yang sudah berkeluarga, mereka mengisi waktu dengan menganyam tikar (yang bahan dasarnya dari daun pandan yang telah diolah sedemikian rupa, sehingga menjadi tali putih yang siap dijadikan tikar pandan) di halaman rumah masing-masing sambil bersenda gurau atau ngobrol tentang kejadian apa yang mereka alami di sawah waktu pagi harinya. Bagi anak-anak kecil setelah puas bermain biasanya akan sigrah (segera) membereskan peralatan sholatnya beserta Al-Qur’an yang akan dibawa ke surau (tajug, Jawa namanya langgar).

Sebelum pembicaraan berlanjut, maaf sebentar, saya akan bicara tentang surau atau tajug (Sunda), dan langgar (Jawa). Nama tempat sholat, surau, tampaknya mengalami pergeseran nama menjadi musholla. Itu merupakan perkembangan bahasa berkaitan dengan keadaan, di antaranya sejak setelah PKI (Partai Komunis Indonesia) kalah berontak yang kesekian, tahun 1965, nama surau, tajug, atau langgar itu dikenal dengan nama musholla.

Mungkin karena orang-orang PKI beramai-ramai ngeyup (berteduh dan berlindung) ke Islam, bahkan mereka ramai-ramai mendirikan surau, maka terjadi pergeseran bahasa, lebih difasihkan lagi istilah surau itu maka menjadi musholla, dari bahasa Arab. Padahal musholla sendiri dalam bahasa Arab itu artinya tempat sholat ied (hari raya) yaitu tanah lapang. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Siapa yang memiliki keluasan lalu dia tidak menyembelih korban maka jangan sampai dia mendekati musholla kami. (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Di dalam lafal mushollana itu pengertiannya adalah tanah lapang untuk sholat ied (hari raya).

Sedangkan surau sebenarnya juga masjid, hanya bukan masjid jami’ alias bukan tempat sholat Jum’at.

Kembali tentang ngabuburit, di Sunda masa dulu, anak-anak desa tempo dulu pada umumnya selalu bersemangat pergi ke tajug atau surau untuk melaksanakan sholat maghrib berjama’ah, lalu mengaji yang dibimbing oleh ajengan (kiyai) setempat, dan setelah sholat ‘isya berjamaah, mereka pulang dengan antusias tanpa ada pengaruh televisi di otaknya.

Jadi insya Allah isi catatan amalnya adalah baik, sebagai bekal kelak di akherat. Beda dengan sekarang, kemungkinan banyak orang, isi catatan amalnya, bagi yang banyak menghabiskan waktunya untuk nonton televise padahal waktu-waktu tersebut sangat berharga, maka betapa celakanya. Ketika masuk kubur, bekal amalnya hanya serba nonton televise. Apakah itu yang akan diandalkan ketika menghadapi malaikat kubur, serta di akherat kelak?

Halaman
1234
Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved