Wanita Yordania Ini Putuskan Masuk Islam

Kami pergi ke sekolah yang dijalankan oleh biarawati. Oleh karena itu belajar tentang agama Kristen adalah suatu keharusan

Wanita Yordania Ini Putuskan Masuk Islam

SERAMBI UMMAH.COM - SAYA seorang wanita Yordania yang berusia 45 tahun. Saya berasal dari Palestina. Saya lahir dari keluarga Kristen dan saya bekerja sebagai manajer kantor. Sayamengikuti agama Kristen sampai 15 Januari 2006, saya sangat bersyukur ketika masuk Islam.

Saya dibesarkan di sebuah keluarga Kristen yang sangat tidak berkomitmen pada agama. Ayah saya adalah seorang ateis, meskipun ia tidak pernah berusaha mempengaruhi kita atau mencampuri pilihan kita. Ibu saya adalah seorang Kristen.

Kami pergi ke sekolah yang dijalankan oleh biarawati. Oleh karena itu belajar tentang agama Kristen adalah suatu keharusan, dan kami harus menghadiri misa pada hari Minggu, di samping saya harus mengikuti ritual massa khusus pada hari Rabu. Saya tidak pernah menyukai ritual massa dan tidak pernah merasa terhubung dengan Tuhan melalui ritual tersebut. Karena metode berdoa melalui imam tidak menarik bagi saya. Mengapa saya membutuhkan pihak ketiga untuk menghubungkan saya dengan Tuhan, terutama ketika pihak ketiga adalah sebagai manusia seperti saya?

Sejak saya masih kecil, kami memiliki wanita yang bekerja di rumah kami dan dia adalah seorang Muslim. Ia sering datang membantu ibu saya di rumah. Ketika dia berdoa, saya mengawasinya dengan daya tarik. Saya pernah bertanya, “Apakah Anda merasa Allah dekat dengan Anda ketika Anda berdoa?” Dia berkata, “Ya, ketika Anda berdoa, Anda merasakan kehadiran Allah.” Jawabannya menyentuh hati saya. Sejak saat itu, saya merasa iri kepada Muslim ketika Adzan berkumandang, mereka berdoa pada waktu itu dan merasakan bahwa Allah dekat dengan mereka.

Agama kristen tidak pernah meyakinkan saya. Bagaimana Allah bisa punya anak? Dan bagaimana Dia bisa saya berdoa kepada anak dari Allah? Saya mempunyai banyak pertanyaan dan itu tidak pernah terjawab denngan saya mempelajari agama kristen.

Saya mulai merasa bahwa Alkitab bukanlah firman Allah. Dalam Alkitab, saya menemukan banyak tanda yang menunjukkan bahwa Yesus hanyalah seorang nabi yang dikirim dengan pesan untuk menyelesaikan masalah sebelum dia ada.

Ada banyak contoh dari Alkitab yang menggambarkan bagaimana Yesus tidak pernah mengaku sebagai Allah, meskipun ia selalu menegaskan bahwa ia adalah anak seorang manusia.

Jadi mengapa saya harus menyembah Yesus? Pertanyaan-pertanyaan ini membuat saya bingung selama bertahun-tahun.

Isu penting lain membingungkan saya, yaitu, mengapa Tuhan harus turun ke bumi dalam bentuk manusia? Mengapa Dia harus membunuh “Anaknya” untuk mengambil dosa-dosa kita? Mengapa Dia harus menyuap kita untuk mengasihi-Nya? Apakah kita tidak terikat kepada-Nya karena keberadaan dan penciptaan kita? Apa yang akan menjadi tujuan hidup kita jika kita hidup tanpa dosa? Dan di mana keadilan ilahi dalam memilh satu orang untuk mengambil beban dosa dan kesalahan orang lain?

Dan jika Kristus mati di kayu salib, maka apakah ini berarti bahwa Allah mati? Bagaimana ini bisa?

Hal lain yang saya mempertanyakan adalah apakah Alkitab adalah firman Allah. Karena ada begitu banyak versi yang berbeda dari Alkitab, keraguan saya dibesarkan tentang keasliannya sebagai kata-kata Tuhan. Jadi, saya mulai meneliti masalah ini sampai saya mendengar perdebatan Ahmad Deedat dengan pengkhotbah Amerika. Perdebatan berjudul “Apakah Alkitab Firman Tuhan?” dan semua poin Deedat masuk akal bagi saya. Melalui karya Deedat, saya melihat banyak ayat dari Alkitab Ibrani, yang benar-benar diabaikan, lihat Nabi Muhammad. Dari sini, perjalanan saya ke Islam dimulai.

Saya menemukan bahwa Islam adalah agama yang menyerukan orang untuk menyembah Allah. Tidak perlu mediator untuk mengatur kehidupan umat Islam.

Secara naluriah, saya merasa Islam menetap di hati saya tanpa perlawanan, dan pikiran saya tenang. Saya menemukan diri saya seolah-olah dilahirkan dalam sebuah keluarga Muslim. Doa saya terkabul mengenai keinginan saya untuk lebih dekat dengan Allah, dan saya berpuasa Ramadhan lalu membaca seluruh Al-Qur’an. Saya menemukan diri saya terlibat spiritual dalam Islam dan diterima dari semua sudut, saya merasa begitu banyak kedamaian batin saya.

Pada tanggal 15 Januari 2006, saya menegaskan bahwa saya seorang muslim, dan saya mengucapkan syahadat, alhamdulillah.

Hari itu adalah salah satu hari terbaik dalam hidup saya. Saya tidak bisa menggambarkan perasaan saya pada hari itu. (ipc)

Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved