Tujuh Kunci Penjuru Kebahagiaan

Hingga tak kita kenali bahwa kesuksesan dan kebahagiaan adalah apa yang terlahir dari dalam hati. Ya, bahagia itu sederhana dan bahkan sangat dekat.

Tujuh Kunci Penjuru Kebahagiaan

SERAMBI UMMAH.COM - SETIAP manusia mengidamkan kebahagiaan dalam hidupnya. Hidup yang bahagia, dilimpahi jutaan karunia dan dikeliling kebaikan. Hingga semua orang terlantas saling bergerak mengupayakan kebahagiaannya.

Beberapa memulainya dengan merencanakan masa depan, lalu secara perlahan menentukan strategi kehidupan yang diinginkannya.

Tapi kita seringkali terjebak dalam definisi kesuksesan yang materialistik; berharta triliun, berkendara pribadi, berperusahaan, berkantong tebal. Hingga tak kita kenali bahwa kesuksesan dan kebahagiaan adalah apa yang terlahir dari dalam hati. Ya, bahagia itu sederhana dan bahkan sangat dekat. Karena ia ada dalam hati.

Tokoh-tokoh besar yang berpenghasilan milyaran perbulannya, memiliki real estate di banyak tempat, memiliki pulau pribadi, hingga tak habis akalnya berpikir bagaimana caranya menghabiskan hartanya. Bahkan hingga tak terasa yang banyak itu seakan tak memberikan nikmat dalam penggunaannya. Lebih dari itu, banyak pula orang yang begitu berani mengakhiri hidupnya justru di kala kariernya berada di puncak.

Kemudian apakah sesungguhnya kebahagiaan itu? Dimanakah letak kebahagiaan itu? Bisakah ia dibeli atau ditukar?

Jawabannya sederhana, sahabat. Kebahagiaan itu ada dalam beberapa makna, yaitu:

Pertama, letaknya ada dalam hati yang penuh syukur

Al-Quran mengingatkan;

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka pasti azabKu sangat berat.” (QS: Ibrahim [14]:7).

Allah berikan pemakluman, bahwa insan tersering lalai dan lupa. Ia, Sang Maha Pemberi berjanji akan membalasnya berlipat kali, jika kita mensyukuri segala apa yang tertakdir untuk dijalani. Tapi, lihatlah jika kita yang telah dimafhumi juga kemudian ingkar, Ia hanya memberi jelaskan bahwa azabNya tak mampu kita tanggung. Maka akankah pikir kita merentang di jeda antara syukur atau kufur dengan kesadaran diri bahwa kita adalah hamba yang selayaknya memuja. Bukan senantiasa terus meminta dan terlupa ucap terima kasih kepadaNya.

Halaman
123
Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved