SerambiUmmah/

3 Hal yang Harus Dilakukan Para Suami Ketika Istri Marah

ajaran Islam tidak pernah memberikan suatu perintah melainkan telah tersedia keteladanan dari hamba-hamba Allah yang berakhlakul karimah

3 Hal yang Harus Dilakukan Para Suami Ketika Istri Marah

SERAMBI UMMAH.COM - MARAH, bisa datang kapan saja kepada siapa saja. Tidak terkecuali pada seorang istri. Namun, untuk menjadi suami bestari sebagaimana diteladankan Nabi memang butuh keteguhan hati. Terlebih kala kemarahan istri terasa mengejikan diri. Tentu, seorang suami butuh pegangan untuk menegarkan hati.

Tetapi, hal ini sekali lagi tidak mudah. Sebagian suami langsung tegak dan melampiaskan kekesalan dengan penuh emosi. Situasi seperti ini, sontak membuat sang istri kaget dan semakin dibakar api kebengisan. Meskipun secara teori hampir setiap suami memahami bahwa api hanya bisa padam dengan air, namun tetap berhati dingin dalam situasi seperti itu jelas butuh kekuatan hati.

Menariknya, ajaran Islam tidak pernah memberikan suatu perintah melainkan telah tersedia keteladanan dari hamba-hamba Allah yang berakhlakul karimah. Termasuk bagaimana semestinya seorang suami merespon kemarahan sang istri.

Suatu waktu, seorang lelaki tergesa-gesa menuju kediaman Sayyidina Umar radhiyallahu anhu dengan maksud hendak mengadukan perilaku istrinya yang dirasa sering sekali marah. Begitu tiba di kediaman Sayyidina Umar, lelaki itu tanpa sengaja mendengar suara istri Umar bin Khaththab sedang meleja khalifah kedua itu. Lelaki itu semakin bingung, karena Sayyidina Umar sama sekali tidak membela diri.

Menyaksikan hal tersebut, lelaki itu pun balik kanan dan melangkahkan kaki untuk pulang sembari bergumam, “Kalau Khalifah saja dimarahi oleh istrinya dan tidak bereaksi apa-apa, untuk apa saya mengadu kepada beliau?” sembari terus melangkahkan kakinya.

Tak disangka, ternyata Sayyidina Umar menyadari kehadiran sang tamu. Beliau pun segera membuka pintu dan tatkala melihat sang tamu telah beranjak, buru-buru beliau memanggil, ”Apa keperluanmu?”

Lelaki itu pun berbalik dan segera menghadap Sayyidina Umar. ”Wahai Amirul Mu’minin, sebenarnya aku datang untuk mengadukan perilaku istriku dan sikapnya kepadaku, tapi aku mendengar hal yang sama pada istri tuan.”

”Wahai saudaraku, aku tetap sabar menghadapi perbuatannya, karena itu memang kewajibanku. Istrikulah yang memasak makanan, membuatkan roti, mencucikan pakaian, dan menyusui anakku, padahal semua itu bukanlah kewajibannya,” jawab Umar.

”Di samping itu,” sambung Umar, ”Hatiku merasa tenang (untuk tidak melakukan perbuatan haram—sebab jasa istriku). Karena itulah aku tetap sabar atas perbuatann istriku.”

”Wahai Amirul Mu’minin, istriku juga demikian,” ujar orang laki-laki itu.

Halaman
123
Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR
Sponsored Content

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help