SerambiUmmah/
Home »

Ihwal

Role Modelmu Bukan Tuntunan Terbaikmu

Allah SWT juga melarang orang-orang beriman dari bersedih hati atas kemiskinan dan kehidupan yang serba kekurangan.

Role Modelmu Bukan Tuntunan Terbaikmu

SERAMBI UMMAH.COM - SAAT ini kebanyakan remaja di negeri kita yang sebagian besar adalah remaja muslim sudah memiliki role model masing-masing. Role model di sini maksudnya adalah seseorang yang berpengaruh dalam suatu hal (seperti selebritis atau atlet) yang mereka jadikan panutan baik dalam berbusana mau pun gaya hidup. Parahnya, kebanyakan yang mereka jadikan panutan ini adalah orang-orang kafir yang jelas-jelas cara hidupnya sangat jauh dari syariat Islam. Padahal sudah dengan tegas Allah SWT sampaikan dalam al-Qur’an bahwa kita dilarang mengikuti cara hidup orang-orang kafir,

“Janganlah sekali-kali engkau (Muhammad) tujukan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang kafir), dan jangan engkau bersedih hati terhadap mereka dan berendah hatilah engkau terhadap orang yang beriman,” (QS. Al-Hijr: 88).

Kalimat la tamuddanna ‘ainaika (janganlah sekali-kali engkau tujukan pandanganmu) mengandung penegasan pada kata tamuddanna. Kata dasarnya tamudda tetapi ditambah dengan nun bertasydid dengan harakat fathah yang disebut dengan nun at-taukid, menandakan penegasan setegas-tegasnya. Ini berarti larangan yang tegas untuk mengarahkan pandangan, dalam pengertian meniru gaya hidup dan penampilan orang-orang kafir, karena kelebihan rezeki yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT kepada mereka.

Allah SWT juga melarang orang-orang beriman dari bersedih hati atas kemiskinan dan kehidupan yang serba kekurangan. Sementara orang-orang yang ingkar kepada Allah SWT hidup bergelimang harta dan kemewahan. Harta dan kemewahan yang Allah SWT berikan kepada mereka adalah ujian, apakah mereka mau bersyukur atau bertambah kufur. Harta berlimpah dan gaya hidup mewah bukan ukuran untuk menilai bahwa Allah lebih menyayangi mereka dari pada orang-orang beriman.

Golongan yang lebih diridhai Allah SWT adalah orang-orang yang beriman. Orang-orang yang lebih mendapatkan petunjuk (hidayah) dari Allah, serta menjalani kehidupan yang sederhana dan bias-biasa saja. Meski sebenarnya mereka juga mendapatkan nikmat rezeki yang berlimpah dari Allah SWT, tetapi hidup bersahaja lebih mereka utamakan dari pada bermegah-megah.

Rasulullah SAW pernah berpesan, “Jika engkau, melihat Allah membukakan pintu-pintu kesenangan duniawi kepada seseorang padahal dia berbuat maksiat, itu tidak berarti Allah menyukainya. Akan tetapi, Allah SWT akan mencabut nikmat darinya secara tiba-tiba,” (HR.Ahmad).

Rasulullah SAW kemudian membacakan firman Allah SWT,

“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa,”(QS. Al-An’am: 44).

Gaya hidup seseorang bisa merepresentasikan apakah dia mendapatkan hidayah atau tidak. Sebab, nilai yang terkandung dalam syariat Allah SWT mencakup seluruh aspek kepribadian: tutur kata, cara berpakaian, tingkah laku, pola pikir, etika bergaul, pengendalian emosi, dan lain sebagainya. Segala jenis aktivitas yang dikerjakan manusia, dari yang terbesar seperti ibadah, hingga yang terkecil seperti cara masuk ke kamar kecil, semua telah diatur.

Orang yang mendapat hidayah Allah SWT, adalah orang yang mengamalkan semua perintah Allah dan sunnah Rasul-Nya dengan kesadaran penuh, dan keikhlasan yang sempurna. Bila semua perintah Allah dijalankan dengan baik dan benar, hal itu menjadi awal terbentuknya sebuah budaya yang berbasis pada hidayah Allah SWT.

Sejarah membuktikan, syariat Islam telah mampu mengubah kebiasaan orang-orang Arab; dari kebisaan saling berperang menjadi persaudaraan yang penuh dengan perasaan damai dalam diri setiap orang. Kaum wanita yang sebelumnya tidak mengenakan hijab dengan sempurna dan cenderung menjadi objek eksploitasi seksual, menajdi wanita-wanita mulia dan terhormat dengan hijab yang disempurnakan oleh islam. Kebiasaan berkata kotor dan saling mengumpat, diubah menjadi kebiasaan untuk saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Semuanya terbentuk dari kesadaran menjalankan syariat Allah dengan baik dan benar, dan itulah hidayah yang kemudian mewarnai budaya hidup mereka sehari-hari. (ipc)

Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR
Sponsored Content

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help