Matinya si Tukang Survei Pesanan

Dari statistik data sampai bagaimana menjual data biar diri kaya raya. Soal calon yang diusung menang lantas korupsinya merajalela

Matinya si Tukang Survei Pesanan

SERAMBI UMMAH.COM - LELAKI berperawakan cukup tambun itu sesosok yang amat peduli. Mungkin karena tebalnya kacamata yang diakibatkan rajinnya membaca sejak belia. Banyak baca, jadilah membukit kepedulian. Dari soal istilah Arab, cadar, hingga ustad yang ajak umat giat berdoa bangun negeri.

Lelaki wong kito itu sepertinya sedang asyik jadi pengamat keislaman. Atau paling tidak jadi pemerhati busana. Cadar dan kebaya disandingkan, mana lebih mulia buat bangsa. Oh alangkah baiknya lelaki pesanan bikin survei ini. Sepertinya dia sedang meluaskan pangsa pasarnya. Boleh jadi karena pasar menebak pemimpin daerah sudah tidak lagi menarik. Siapa tahu menebak busana yang dipakai si anu dan si anu lebih menggelitik.

Isi kepalanya angka dan angka. Dari statistik data sampai bagaimana menjual data biar diri kaya raya. Soal calon yang diusung menang lantas korupsinya merajalela, dia tentu tak bakal tunjuk dada. Paling-paling dia lari ke sastra, mendadak jadi penyair esais dengan pujian kolega di mana-mana!

Kalau hitung menghitung cepat, dialah jagonya. Tiba-tiba dia jadi peduli pada kelompok Islam, asyik saja. Siapa tahu, mulut menganga teriak yang menuai murka, dia bakal beken dilirik banyak foundation luar sana. Jualan statistik mungkin sudah di titik jemu. Atau mungkin dia sudah kaya raya. Jangan tanya soal harta beda dari hasil ramal-meramal politik. Dari Rekor MURI dia terima. Dari teve dia jadi kiblat. Kalau semua sudah diraih, sementara klien sudah sepi maka mau apa?

Calon klien mungkin masih bakal antre. Sebab reputasi sudah diobrolkan di mana-mana. Tapi kalau mulut masih sukar dijaga, itu pertanda dia fakir empati. Duit melimpah, aktualisasi profesi di titik puncak, tapi hati masih mencari-cari kebenaran, jadilah dia tukang bikin gaduh komentar tidak bermutu. Hari ini soal cadar, besok mungkin jenggot. Hari ini ustad pendoa, esok siapa sangka dia komentari kiai pendoa di mimbar sidang paripurna MPR.

Cari-cari perhatian bisa saja cara dia cari gara-gara. Bukan soal duit belaka. Bisa jadi ini soal butuh perhatian. Kalau oknum sastrawan sudah dia pegang, apatah lagi penyokongnya di sesama pemuja penguasa. Mungkin dia lagi cari jalan masuk biar dekat di hati pengeliling Istana. Siapa tahu suka nyinyir dalam agama dia bisa ditarik ke Istana. Ya, sebagai peneman menteri apalah, dengan posisi juru taksir angka tatkala Paduka bermuram durja. (ipc)

Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved