Tentang Pelarangan Memakan Bangkai dan Darah

tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun

Tentang Pelarangan Memakan Bangkai dan Darah

SERAMBI UMMAH.COM – Allah Subhanahu Wata’ala berfiman dalam surah An-Nahl ayat 155 yang artinya sebagai berikut:

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Surah An-Nahl :155).

Ayat ini ditemukan pada awal kesepuluh terakhir dari Surat An-Nahl, yang merupakan surah Makkiyah yang terdiri dari 128 ayat. Ini dinamai Surat An-Nahl (lebah) karena mencakup sebuah ayat di mana Allah SWT menjelaskan bahwa Dia telah mengaruniakan kepada lebah betina kemampuan untuk mengumpulkan nektar dari bunga, mencernanya, dan menjadikan dari nektar itu cairan manis yang kita sebut madu . Cairan manis yang dijelaskan dalam surah An-Nahl itu berasal dari perut lebah sebagai minuman yang memiliki warna yang berbeda-beda, dan menjadi obat bagi manusia.

Tema yang terkandung salam surat ini berkisar dua hal: syahadat Islam, dan pentingnya sopan santun. Ini adalah dua pilar agama besar yang Allah SWT ungkapkan secara bertahap pada Nabi dan Rasul-Nya, sampai Allah kemudian menyempurnakan agama ini dengan wahyu terakhir yang datang kepada penutup para Nabi dan Rasul, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dalam diskusi surah tersebut tentang akidah Islam, pembaca diajak untuk merenungkan banyak tanda-tanda kebesaran Allah, ciptaan-Nya dan keajaiban alam semesta yang disajikan dalam cara ilmiah yang kuat yang menunjukkan kesempurnaannya. Salah satu contohnya adalah dalam ayat 115 surah tersebut.

DR. Zaghloul El-Naggar, seorang professor Islam di bidang sains mengungkapkan dalam situsnya tentang fakta ilmiah terkait pelarangan memakan bangkai dan darah sebagainya yang terkandung dalam surah An-Nahl ayat 155, sebagai berikut:

Larangan Memakan Bangkai

Kematian hewan sebelum disembelih bisa disebabkan karena menderita penyakit tertentu atau virus. Bisa juga karena usianya yang sudah tua. Sebenarnya, dua alasan ini cukup untuk melarang jenis daging ini untuk dimakan. Selain itu, ketika hewan mati tanpa disembelih dengan benar memungkinkan darahnya mengering dari tubuhnya, maka darah itu akan tetap terjebak dalam tubuhnya. Ini adalah masalah serius karena darah membawa kotoran tubuh termasuk karbon dioksida, urea, asam urat, mikroorganisme, parasit, dan produk asimilasi makanan dan metabolisme yang diangkut melalui pembuluh darah dan arteri dan anak cabangnya pada tubuh hewan.

Sebagian besar zat ini berpotensi untuk membusuk dan rusak jika tetap berada dalam tubuh hewan, terutama jika tubuh hewan itu telah ditinggalkan untuk jangka waktu cukup lama. Dari alasan tambahan ini kita melihat kebijaksanaan lebih lanjut dan logika di balik larangan Allah untuk memakan bangkai.

Larangan Memakan Darah

Darah adalah cairan merah gelap yang terdiri dari campuran sel yang berbeda. Sel-sel darah merah membentuk 45% dari volume darah (4 sampai 6 juta per mm3) yang mengandung konsentrasi tinggi dari hemoglobin yang bertanggung jawab untuk membawa dan memberikan oksigen ke sel-sel tubuh. Darah juga mengandung sel darah putih yang mempertahankan tubuh terhadap serangan mikroorganisme dan parasit yang menimbulkan penyakit. Darah juga mengandung trombosit yang membentuk sumbat trombosit di lokasi luka atau perdarahan untuk memungkinkan darah membeku.

Halaman
12
Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved