Perbudakan dalam Pandangan Islam

Ucapan ini dilontarkan tatkala ada seorang rakyat kecil yang mengadukan perilaku anak gubernur tersebut karena telah mencambuk

Perbudakan dalam Pandangan Islam

SERAMBI UMMAH.COM - “Wahai Amr bin Ash, mengapa engkau memperbudak manusia, padahal mereka dilahirkan ibunya dalam keadaan merdeka?” itulah ucapan masyhur dari Amirul Mukminin Umar bin Khatab ra kepada Amr bin Ash ra yang menjabat sebagai Gubernur Mesir kala itu. Ucapan ini dilontarkan tatkala ada seorang rakyat kecil yang mengadukan perilaku anak gubernur tersebut karena telah mencambuk dan menganiaya seseorang hanya karena ia kalah dalam ketangkasan menaiki kuda.

Dari ucapan sang Khalifah tersebut dapat kita temukan sebuah pelajaran berharga bahwa sesungguhnya manusia, siapa pun ia, dari golongan apa pun dan dari penjuru bumi mana pun pada fitrahnya adalah makhluk yang merdeka sejak ia keluar dari kandungan. Ia bebas menentukan pilihan, ia memiliki hak yang sama, dan memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah SWT.

Namun, kemerdekaan yang telah ia dapatkan secara fitrah itu harus ia pertahankan dan ia rebut kembali apabila ada yang merebutnya. Salah satu hal yang merebut kemerdekaan itu berasal dari dalam dirinya sendiri, hal tersebut berupa hawa nafsu, kebodohan, kesombongan, dan fanatisme buta.

Seseorang yang memperturutkan hal-hal tersebut sesungguhnya ia telah melepaskan kemerdekaan dalam dirinya. Kemudian yang kedua, hal yang dapat menghilangkan kemerdekaan itu bersumber dari faktor eksternal/dari luar yakni dari rong-rongan orang-orang yang zalim yang membuat kerusakan di muka bumi.

Terdapat dua bentuk kemerdekaan yaitu kemerdekaan secara batiniyah dan kemerdekaan secara lahiriah. Kemerdekaan batiniyah adalah kemerdekaan dimana seseorang hanya memiliki Ilah yang satu yaitu Allah SWT. Maksud Ilah di sini adalah sesuatu yang mendominasi dalam hidupnya.

Jadi apa yang ia pikirkan, lakukan, dan korbankan hanyalah Allah SWT dan untuk Allah SWT. Kemerdekaan lahiriah adalah kemerdekaan secara fisik misalnya saja kemerdekaan dari belenggu penjajahan secara wilayah, dan kemerdekaan secara status individu yaitu bukan sebagai budak belian. Dan tentunya Islam sangat menekankan umatnya untuk menggapai dua bentuk kemerdekaan tersebut.

Hal tersebut bisa terlihat dari ucapan Rib’i bin Amir kepada Panglima Persia Rustum saat ditanya alasan kaum muslimin menginvasi kerajaan Persia. ”Sungguh Allah Ta’ala mengutus kami untuk membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama menuju penghambaan hanya kepada Allah, melepaskan lilitan belenggu kesempitan dunia menuju kebebasan menyeru kalian (ke kekuasaan (wilâyah) Allah dari kekuasaan hamba), serta mengeluarkan mereka dari kezaliman agama-agama menuju keadilan Islam.

Dari ucapan tersebut tergambar bahwa kedatangan kaum muslim ke negeri-negeri kaum non-Muslim saat itu adalah untuk memerdekakan mereka baik secara batiniyah maupun lahiriah.

Namun dalam mencapai kemerdekaan tersebut tentu saja ada tahapan yang harus dilalui dan rangkaian mutlak dalam menggapainya. Kemerdekaan harus dimulai dahulu dari kemerdekaan batiniyah karena ini merupakan hal yang paling utama. Seperti kisah Bilal bin Rabah ra ketika menyatakan dirinya memeluk Islam.

Walaupun secara lahiriah ia adalah seorang budak namun secara batiniyah ia adalah orang yang merdeka dan keteguhannya mempertahannkan kemerdekaan batiniyah ini akhirnya berbuah kemerdekaan secara lahiriah lewat perantara Abu Bakar Ash Shiddiq ra.

Selain mempertahankan kemerdekaan secara batiniyah dan lahiriah kaum muslimin pun diperintahkan untuk memerdekakan orang-orang yang belum merdeka baik secara batiniyah maupun secara lahiriyah seperti disebutkan dalam Al-Quran surat Al-Balad ayat 11-13, “Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan perbudakan.”

Dari ayat tersebut kita bisa memahami bahwa kaum muslimin memiliki tugas yang sukar lagi mendaki. Tugas itu tidak lain adalah melepaskan perbudakan baik dalam bentuk perbudakan batiniyah maupun lahiriah.

Walaupun perbudakan secara lahiriah sudah jarang dijumpai namun kaum muslimin tetap memiliki tugas yaitu melepaskan perbudakan secara batiniyah yang sama sulitnya seperti melepaskan perbudakan secara lahiriah.

Dan tugas tersebut wajib ditunaikan oleh seluruh kaum muslimin agar tercipta dunia yang Allah SWT ridhoi yang dipenuh dengan kedamaian dan dihiasi keadilan. (ipc)

Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved