Tunggu Ayah di Depan Gang

Dan anak yang mulai beranjak remaja itu tetap ceria menyambut. Sebagai ganti, ia akan minta digendong sampai rumah.

Tunggu Ayah di Depan Gang

SERAMBI UMMAH.COM - ENTAHLAH apa itu sebuah perintah atau permintaan. Yang jelas, setiap kekata yang keluar dari mulut sang ayah, merupakan sabda bagi gadis kecil. Tiap sore, selepas asar, ia akan menunggu lelaki beraroma matahari itu di depan gang kecil di sebelah jalan besar, bersama boneka beruang kesayangan.

Biasanya sang ayah akan datang beberapa menit kemudian sambil membawa sesuatu. Entah bebuahan, sekotak ayam siap saji, ataupun sepasang pita rambut.

Kadang tak dibawa sebiji barang pun selain lelah. Dan anak yang mulai beranjak remaja itu tetap ceria menyambut. Sebagai ganti, ia akan minta digendong sampai rumah.

Dan peri kecil akan tetap minta digendong meskipun telah mendapatkan oleh-oleh.

Lelaki yang sebenarnya telah letih dari mengangkut barang-barang di pelabuhan itu akan menggendong anaknya di belakang, menyusuri gang, menyebrang jalan besar, lalu masuk lagi ke dalam gang yang berkelok-kelok. Ia akan mengikuti arah yang ditunjukkan sang biji mata, hingga sampai ke rumah kontrakan mereka yang sebenarnya berjarak sekitaran saja dari gang itu. Tepat di sebelah kali yang setiap siang mengeluarkan bau bacin.

Setelah sampai di rumah, Putri akan memakan oleh-oleh yang dibawakan sang ayah. Lelaki yang kulitnya telah melegam karena terlalu sering disengat matahari itu hanya memperhatikan sang anak makan.

“Ayah mau?” Mulutnya menggerak bertanya, tapi tidak ada suara yang keluar dari sana selain “a-a-a-u”. Lelaki tiga puluh lima tahun itu hanya menggeleng sambil tersenyum. Menelan liur yang terbit demi melihat sepotong dada ayam besar.

Setelah makan, anak gadis itu akan memijat sang ayah sampai tertidur. Kadang jika sedang iseng, dicabutnya bulu hidung ayahnya yang sudah terlelap. Lelaki yang wajahnya terlihat lebih tua dari usia sebenarnya itu akan tergeragap bangun dari tidurnya, lalu dikejarnya sang anak dan digelitiknya sampai ia meminta ampun.

Baginya, sang anak adalah obat, ketika hati lelah menghadapi pikuknya dunia. Apalagi setelah istrinya pergi meninggalkan mereka dengan alasan mencari kerja di kota. Entah apa yang membuainya di sana hingga perempuan itu lupa jalan menuju rumah.

***

Halaman
123
Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved