Ikhtilaf Umat Rahmat

iktilaf terjadi dalam beberapa persoalan. Ikhtilaf dalam penetapan adanya pencipta dan keesaan-Nya, maka ikhtilaf di sini

Ikhtilaf Umat Rahmat

SERAMBI UMMAH.COM - TATKALA membicarakan masalah tema ikhtilaf (perbedaan) adalah rahmat, maka pembicaraan biasanya akan berhenti dalam pembahasan derajat hadits ikhtilaf ummati rahmah (ikhtilaf ummatku adalah rahmat) atau adalam riwayat lainnya ikhtilaf ashhabi rahmah (ikhtilaf para sahabatku adalah rahmat).

Al Hafidz As Sakhawi menyebutkan bahwa Imam Al Baihaqi meriwayatkan dengan sanad munqathi’ sedangkan perawinya juga dhaif jiddan (lihat Maqashid Al Hasanah, hal. 26, 27). Sedangkan Al Hafid Al Iraqi juga menyebut hadits ini dalam Al Ilmu wa Al Hikam sebagai hadits mursal dhaif. Sehingga keputusannya, hadits itu dhaif, harus ditinggal dan selesai pembahasan.

Pembicaraan jarang berlanjut dari sanad menuju matan alias kontennya, yakni kalau status sanadnya dhaif apakah dalam hal ini matannya juga tertolak? Sedangkan masalah matannya para ulama juga telah berbicara.

Adalah Imam Al Khaththabi salah satu huffadz hadits yang juga mensyarah Shahih Al Bukhari termasuk ulama yang mempertahankan kandungan matan hadits ini dari pengritiknya. Beliau menyampaikan dalam A’lam Al Hadits (1/219-221),”Pihak yang mengkriti hadits ini ada dua laki-laki, pertama gila yang kedua atheis yakni Ishaq Al Maushili dan Amru bin Bahr Al Jahid, dimana keduanya menyatakan,’Kalau ikhtilaf (perbedaan) rahmat maka ittifaq (kesepakatan) adalah adzab’”.

Jika Ikhtilaf Rahmat maka Ittifaq Adzab?

Imam Al Ikhaththabi pun menjelaskan maksud dari hadits itu, bahwa iktilaf terjadi dalam beberapa persoalan. Ikhtilaf dalam penetapan adanya pencipta dan keesaan-Nya, maka ikhtilaf di sini menyebabkan kekufuran. Sedangkan Ikhtilaf mengenai sifat pencipta dan kehenda-Nya maka hal ini adalah bid’ah, sebagaimana ikhtilaf kaum khawarij dan rawafidh mengenai status keislaman sejumlah sahabat. Adapun ikhtilaf mengenai hukum ibadah yang memungkinan adanya perbedaan, maka Allah menjadikannya mudah dan rahmat dan kemuliyaan bagi ulama.

Imam An Nawawi juga menukil argumen Al Khaththabi dalam Syarh Shahih Muslim, beliau menyampaikan bahwa tidak otomatis sesuatu itu rahmat maka lawannya merupakan adzab dan Allah berfirman yang artinya,”Dan dari rahmat-Nya, Dia telah menjadikan untuk kalian malam agar kalian beristirahat di dalamnya” (Al Qashas: 73). Malam disebut rahmat dan tidak berkonsekwensi bahwa siang adalah adzab. (lihat, Kasy Al Khafa, 1/67)

Bukan hanya Imam An Nawawi yang menerima argumen Al Khaththabi, Al Qasthalani dan Az Zurqani dalam Al Mawahib dan syarahnya juga Al Ajluni dalam Kasyf Al Khafa juga menerima argumen itu.

Hanya saja Ibnu Hazm dalam Al Ihkam (5/64) mengulang kembali argumen Jahid dan Ishaq Al Maushili ini meskpun telah disanggah oleh Al Khaththabi. Ada kemungkinan Ibnu Hazm belum sampai kepada pernyataan Al Khaththabi dikarenakan dekatnya masa serta jauhnya jarak antara keduanya, dimana Al Khaththabi tinggal di ujung timur sedangan Ibnu Hazm di ujung barat.

Ulama Salaf-Khalaf: Ikhtilaf Umat Rahmat

Halaman
123
Tags
ihtilaf
Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved