Religion Education Antar Annalise Eyles Temukan Islam

Khadija, yang bernama asli Annalise Eyles tidak pernah mengira sebelumnya bahwa ia akan sangat penasaran terhadap islam

Religion Education Antar Annalise Eyles Temukan Islam

SERAMBI UMMAH.COM - SAYA bertemu dengannya satu tahun lalu, saat Islamic Society di Universitas Essex mengadakan acara gathering untuk para muslimah. Ia, satu di antara para muallaf yang tidak terlihat canggung untuk menegur dan saling sapa. Ketika saya mengulurkan tangan dan mengajak berkenalan, ia tersenyum simpul dan berkata, “My name is Khadija”.

Khadija, yang bernama asli Annalise Eyles tidak pernah mengira sebelumnya bahwa ia akan sangat penasaran terhadap islam, karena setelah peristiwa 11 September, ibunya selalu mengatakan bahwa muslim adalah kumpulan orang yang jahat dan mereka berniat menguasai dunia. Kondisi ini diperkuat oleh lingkungan keluarganya yang tak pernah mengajarkan praktek agama apapun, termasuk nilai-nilai Kristen maupun katholik yang dominan dianut oleh penduduk benua Eropa.

Ketertarikannya terhadap islam dimulai ketika ia mendapatkan Religion Education (RE) di sekolahnya, berbeda dengan di Indonesia yang mana tiap siswa akan diajarkan satu materi tergantung agama apa yang dianutnya, di Inggris guru pengampu RE akan mengajarkan penjelasan umum tentang beragam agama dari islam hingga budha.

Pengalaman ini pun menggugah Khadija untuk banyak membaca bermacam-macam textbook tentang islam. Hal ini dikarenakan ia merasa lebih tenang dan damai ketika memeplajari nilai-nilai islam, yang ia kira lebih masuk akal dan mudah dicerna, namun saat itu ia belum memiliki keinginan untuk melangkah lebih jauh menjadi muslim.

Kerinduan untuk mengenal agama yang hakiki pun membuatnya banyak bertanya kepada orang-orang terdekat, termasuk ibunya saat mereka berdua berada dalam perjalanan menuju ke sekolah. Gadis kecil yang dulu masih berusia belia itu tak sungkan untuk mengajukan pertanyaan, “Mengapa aku tidak diajarkan agama sama sekali, Bu?”

Mendapatkan pertanyaan tersebut, ibunya hanya menanggapinya dengan senyum dan kemudian diam seribu bahasa. Mendapat jawaban yang tidak memuaskan dari sang ibu ternyata tidak membuat ia menyerah dan berhenti belajar. Ia pun kembali mengajukan berbagai pertanyaan kepada teman-temannya. Dan sama seperti ibunya mereka tidak menganggap bahwa mengikuti ajaran agama adalah elemen penting, mereka cenderung menganggap agama membatasi kehidupan mereka karena mereka akan terbelenggu oleh aturan-aturan dan tentu hal ini mengurangi kebebasan mereka.

Nasihat yang mereka berikan pada Khadija juga tidak pernah berorientasi pada satu agama, mereka hanya menyarankan untuk amalkanlah ajaran agama yang termudah dan jangan terlalu fanatik.

Belum pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan hatinya, Khadija masih dibayangi beragam pertanyaan dan keraguan. Hingga ia mencoba membuat akun facebook dan melalui media social itulah, Ia bertemu dengan beberapa muslim dari Indonesia dan negara timur tengah yang memberikannya pemahaman yang lebih lengkap tentang islam dan ajaran utamanya.

Melalui jejaring pertemanan inilah, ia lalu banyak bertanya dan juga berdialog mengenai dasar-dasar islam dan bagaimana menjadi muslim. Setelah banyak mencari tahu, ia akhirnya membulatkan tekad dan memutuskan untuk memeluk islam. keinginannya menjadi muslim ini ternyata ditentang oleh keluarganya yang mengira bahwa ia adalah korban pencucian otak dari kelompok radikal muslim.

Dituduh seperti itu tidak membuat Khadija gentar untuk terus memperjuangkan keputusannya. Dari hari ke hari, ia kemudian mencoba menunjukkan bahwa dirinya bukanlah bagian dari kelompok ekstremis seperti yang keluarganya tuding dengan terus memperbaiki perilaku dan perkataannya yang tercermin dari nilai-nilai islam.

Setelah keluarganya agak melunak, ia pun berkeinginan untuk berikrar menjadi muslim. Melalui informasi yang diperoleh dari sahabatnya, ia akhirnya pergi ke masjid terdekat di daerah London untuk konsultasi bagaimana menjadi muslim. Seminggu kemudian, setelah menyatakan keinginannnya masuk islam. Gadis berusia 21 tahun ini kembali ke masjid yang sama lagi dan mengucapkan syahadat secara langsung di depan imam masjid dan para jamaah.

Tidak lama setelah proses keislamannya, saksi sekaligus sahabatnya yang muslim menceritakan kisahnya kepada keluarganya. Hal ini ternyata tidak langsung diterima dengan lapang dada oleh keluarganya karena mereka mengira keinginan Khadija menjadi muslim hanyalah cerita abak kecil usai sekolah.

Namun, seiring berjalannya waktu dan usahanya untuk menerapkan akhlak terbaik sesuai dengan nilai-nilai islam di depan keluarganya, kini keluarganya sudah dapat memahami keputusannya memeluk islam dan terlihat sangat mendukung keputusannya tersebut. Bahkan setiap Khadija ingin mengikuti kajian islam maupun kegiatan positif lainnya di London atau universitas Essex, orangtuanya selalu bersedia mengantar dan menjemputnya. Ini membuktikan bahwa keluarganya melihat bahwa keputusannya menjadi muslim bukan keputusan yang buruk, malah dari ke hari, Khadija dinilai bisa menjadi role model yang baik bagi anggota keluarga lainnya.

Di akhir penuturan kisah perjalananya menjadi muslim, Khadija terus berharap dan berdoa bahwa Allah terus menguatkan keimanannya karena ia sendiri sadar bahwa menjadi muslim di negeri Queen Elizabeth tidaklah mudah, banyak tantangan yang harus ia hadapi ke depannya, yang bisa jadi boomerang bila ia tidak siap atau pun tidak terus mencari ilmu. (ipc)

Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved