SerambiUmmah/

Dinda dalam Kaca

Mungkin penumpang yang lain akan mengira ia sedang kasmaran, senyum-senyum sendiri sambil mengetikkan pesan. Padahal bukan demikian

Dinda dalam Kaca

SERAMBI UMMAH.COM - DINDA baru saja duduk dalam bis kota, menuju tempatnya bekerja. Bunyi singkat telepon genggam membuatnya membuka pesan masuk.

Leona
Dinda, aku pengen kamu ngingetin aku. Jangan sampai aku ambil keputusan karena putus asa.

Herdy
Mba din, masih di tempat lama? Masih minat ngga gabung ma kami?

Cilia
Mba Panda, aku harus gimana, jadi diriku sendiri atau ngikut kata orang tapi itu bukan aku? Maksudku baik, demi kebaikan bersama, tapi yang ditangkep orang bisa beda.

Upeh
Kangen uyy.. Ngga pernah ketemu pisan

Kurly
Cie..ciee… Yang deg-degan nunggu wiken ciehh…

Arie
Dinjelll…..

Dinda tersenyum, membalasi pesan-pesan yang masuk. Mungkin penumpang yang lain akan mengira ia sedang kasmaran, senyum-senyum sendiri sambil mengetikkan pesan. Padahal bukan demikian, Dinda hanya menertawakan dirinya.

Sepertinya kata-kata yang dia tuliskan di layar dalam sehari itu lebih banyak daripada yang dia ucapkan. Baginya menyampaikan melalui tulisan itu lebih aman, dapat diedit, dibaca dikoreksi berulang hingga diperoleh nilai rasa yang pas. Berbeda saat berbicara, sekalinya tersalah layaknya belati menghujam dada. Melukai, bahkan bisa hingga berdarah sampai parah. Bila sembuh pun belum tentu dimaafkan. Belum lagi bekas luka yang meski sudah tak lagi menganga namun tetap ada.

Dinda mengamati jalan melalui jendela, rintik hujan menderas membuat jendela berembun. Dinda tergoda meletakkan jemarinya di jendela, hendak menuliskan sebuah nama. Ditariknya garis vertikal dari atas ke bawah, tapi segera dihentikannya. Ah tidak, tak perlulah menuliskan apa yang belum tentu dituliskan. Biar saja terajut dalam harap, tanpa perlu berlebihan.

Halaman
123
Tags
Titip Doa
Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR
Sponsored Content

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help