Home »

Ucil

Ibu, Ayah, Cukuplah Berjalan di Sisiku

Lalu dengan emosi, ibu dan ayahnya malah menyalahkan perihal langkahnya yang lambat, konsentrasinya yang kurang. Cobalah renungkan

Ibu, Ayah, Cukuplah Berjalan di Sisiku

SERAMBI UMMAH.COM - PERNAH tidak, melihat seorang Ibu, Ayah yang menggandeng anaknya dengan tergesa? Lihatlah betapa anaknya sekuat tenaga, terpontang panting, bahkan terjatuh untuk mengejar langkah-langkah besar sang penuntun.

Lalu dengan emosi, ibu dan ayahnya malah menyalahkan perihal langkahnya yang lambat, konsentrasinya yang kurang. Cobalah renungkan, siapa yang salah sebenarnya?

Kadang kita tidak menyadari bahwa kita sebagai orangtua terlalu egois menuntut anak untuk bisa mengimbangi kita.

Makan harus cepat, tidak berhambur. Jalan harus cepat dan fokus, tidak menoleh kanan kiri. Bermain yang bersih saja. Berbicara seperlunya saja. Allahu Akbar!

Betapa semua terasa menyakitkan begitu mendengar lugunya berkata sembari menghapus isak karena terjatuh:

“Ummi gandeng mbak tapi ummi jalan cepat-cepat. Kaki mbak kecil, nggak seperti kaki ummi.”

Ya, sebagian besar anak tidak berani menegur orangtuanya ketika berada pada situasi ini. Mereka lebih memilih bungkam.

Sbagian lagi mengambil resiko baru dengan menangis saja. Sekalipun nantinya akan mengundang masalah baru.

Mereka sejatinya adalah cerminan para orangtua. Apa yang dilakukan orangtua akan membekas pada kehidupannya kelak. Lihatlah bila anak terus diperlakukan demikian.

Kelak ketika besar, anak akan sulit mengendalikan sikapnya. Percaya dirinya berkurang. Takut salah. Hingga pada tingkat pengejar kesempurnaan.

Halaman
123
Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR
Sponsored Content

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help